Serial Akidah Islam Bag-2 - Wajibul Wujud - I Ustadz Abdillah Baabud I ALQURBA TV
Автор: ALQURBA TV
Загружено: 2020-06-09
Просмотров: 6746
Описание:
Teks Dalil
Menurut pengandaian akal, segala sesuatu yang ada, tidak akan keluar dari dua kemungkinan.
Adakalanya ia wajibul wujud (keberadaannya pasti dan tidak bergantung pada yang lain) dan adakalanya mumkinul wujud (keberadaannya tidak pasti dan bergantung pada yang lain).
Semua yang ada tidak dapat dianggap sebagai mumkinul wujud, karena mumkinul wujud memerlukan sebab (untuk menjadi ada), dan jika semua sebab-sebab itu juga mumkinul wujud, maka konsekuensi logisnya tidak akan ada yang ada.
Karena keberadaan itu ada dan tidak dapat dipungkiri, maka wajibul wujud dengan sendirinya harus ada dan terbukti keberadaannya.
Dengan kata lain:
Kebergantungan yang bersinambung (tasalsul) antara sebab-sebab tidak mungkin terjadi (mustahil). Oleh karenanya, rangkaian sebab itu harus berakhir pada sebuah keberadaan yang tidak bergantung pada keberadaan lain atau bukan merupakan akibat dari wujud lain (wajibul wujud).
Apabila segala sesuatu itu, tanpa terkecuali, keberadaannya bergantung pada yang lain (baru akan ada bila diciptakan oleh selainnya), maka selama segala sesuatu itu saling bergantung satu dengan yang lain tanpa terkecuali, maka hal ini akan berkonsekuensi pada ketiadaan segala sesuatu secara keseluruhan.
Ternyata keberadaan itu ada, maka dapat dipastikan keberadaan yang tidak bergantung pada keberadaan lain, yakni (wajibul wujud), itu ada.
Beberapa konsekuensi logis dari Wajibul Wujud
1-Azali dan Abadi (Sarmadi):
Karena wajibul wujud tidak bergantung pada yang lain, maka ia tidak pernah tidak ada (azali) dan akan selalu ada (abadi).
Oleh sebab itu, setiap maujud yang pernah tidak ada atau mungkin sirna setelah beberapa waktu, maka ia dapat dipastikan bukan wajibul wujud.
Dari keterangan ini dapat pula ditarik kesimpulan, bahwa setiap fenomena yang pernah tidak ada atau yang bisa sirna tidak memiliki kelayakan untuk menjadi wajibul wujud.
2-Tidak tersusun (non-heterogen):
Setiap sesuatu yang tersusun dan terdiri dari beberapa bagian, maka keberadaannya bergantung pada bagian-bagiannya. Dan karena wajibul wujud tidak bergantung pada apapun, maka ia dapat dipastikan tidak tersusun dari apapun atau tidak terdiri dari bagian-bagian.
Dan karena wajibul wujud bukan benda, maka jangan harap ia bisa dijangkau oleh indera.
Sebagai contoh, Anda tidak dapat memaksa telinga untuk melihat atau mata untuk mendengar.
Masmu'at, mar'iyyat, yang bisa diraba, dirasa dan dicium aromanya...tidak memiliki kelayakan untuk menjadi wajibul wujud...
يُقال له ذِعلِب، ذو لسان بليغ في الخطب، شجاع القلب، فقال: يا أمير المؤمنين هل رأيت ربّك؟ قال (عليه السلام) : ويلك يا ذِعلب
ما كنت أعبد ربّاً لم أره، فقال يا أمير المؤمنين كيف رأيته؟ قال: ويلك يا ذعلب لم تره العيون بمشاهدة الأبصار ولكن رأته القلوب بحقائق الايمان،
3-Tidak terikat oleh ruang dan waktu:
Karena ia bukan materi/benda, maka ia tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Keterangan: Ruang dan waktu adalah dua dimensi yang bergantung dan hanya dapat difahami dari keberadaan-keberadaan yang terbatas.
Ruang adalah batasan setiap sesuatu, dan waktu adalah konsep (mafhum) yang lahir dari gerak (baik yang aktual maupun potensial).
Penjelasan: Yang pada hakikatnya ada itu adalah sesuatu yang terbatas bukan ruang dan waktu...
Ruang dan waktu adalah dua dimensi yang lahir dari sesuatu yang terbatas...
Gerak sendiri merupakan bukti akan keterbatasan. Karenanya, asumsi
gerak tidak dapat diterapkan pada sesuatu yang tak terbatas.
وبهذا الإسناد، عن أحمد بن محمد بن أبي نصر، عن أبي الحسن الموصلي، عن أبي عبد الله قال: جاء حبر من الأحبار إلى أمير المؤمنين فقال:
يا أمير المؤمنين متى كان ربك؟ فقال له: ثكلتك أمك ومتى لم يكن؟ حتى يقال: متى كان! كان ربي قبل القبل بلا قبل وبعد البعد بلا بعد، ولا غاية ولا منتهى لغايته، انقطعت الغايات عنده فهو منتهى كل غاية، فقال: يا أمير المؤمنين! أفنبي أنت؟ فقال: ويلك إنما أنا عبد من عبيد محمد .
وروي أنه سُئل : أين كان ربنا قبل أن يخلق سماءاً وأرضاً؟ فقال : أين سؤال عن مكان؟! وكان الله ولا مكان.
4-Tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak berevolusi:
Karena ia tidak bergantung pada apapun, maka ia pasti tak terbatas.
Dan jika tak terbatas, maka ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sedangkan, tidak ada gerak, perubahan, dan evolusi yang tidak melibatkan waktu.
Kesimpulan:
Secara garis besar dapat dikatakan, bahwa setiap pengertian yang menunjukkan suatu kekurangan, keterbatasan, kebutuhan dan kebergantungan, akan ternafikan dari wajibul wujud (Allah). Dan inilah yang dimaksud dengan sifat-sifat salbiyah (semua kekurangan ternafikan dari-Nya).
Sebaliknya, setiap pengertian yang menunjukkan kesempurnaan, maka wajibul wujud pasti memilikinya dalam kualitas yang tak tertandingi (sempurna). Inilah yang dimaksud dengan sifat-sifat tsubutiyah (semua kesempurnaan, ada pada-Nya).
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: