Kata Jenderal Widodo, Lettu Dul Arief Disergap Yon 402 dan KKO
Автор: Intel Melayu
Загружено: 2023-07-28
Просмотров: 45671
Описание:
Kata Jenderal Widodo, Lettu Dul Arief Disergap Yon 402 dan KKO
Kata Jenderal Widodo, Lettu Dul Arief disergap pasukan dari Yon 402 dan KKO. Lettu Dul Arief adalah salah satu tokoh yang punya peran penting dibalik peristiwa penculikan para jenderal penting Angkatan Darat pada awal Oktober 1965.
Dul Arief adalah anak buah langsung Letkol Untung Syamsuri, Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Oleh komplotan Gerakan 30 September, Dul Arief ditunjuk sebagai komandan pasukan Pasopati, pasukan yang ditugaskan menculik para jenderal pimpinan teras Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965.
Setelah Gerakan 30 September gagal, Dul Arief melarikan diri ke wilayah Jawa Tengah. Tapi kemudian diberitakan Dul Arief dapat disergap oleh pasukan TNI AD yang kala itu gencar melakukan operasi penumpasan. Sayang, setelah itu, nasib Dul Arief seperti jadi misteri. Ada yang menyebutkan jika Dul Arief tewas dalam penyergapan tersebut. Bahkan, ada yang menyebut jika Ali Moertopo, perwira intelijen kepercayaan Soeharto yang menghabisi Dul Arief. Benarkah?
Secuil informasi tentang penyergapan Lettu Dul Arief diungkapkan oleh Jenderal Widodo yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro. Kelak, karir Widodo melesat hingga jadi Kepala Staf Angkatan Darat.
Dalam buku,"Pancawarsa Supersemar,"Jenderal Widodo mengungkapkan, saat dia masih bertugas sebagai Kepala Staf Kodam VII/Diponegoro sejak Januari 1966, ditugaskan untuk mengembalikan integritas komando di Kodam Diponegoro yang berantakan akibat peristiwa G30S PKI.
Pengembalian integritas komando itu menurut Jenderal Widodo, terpecah menuju tiga sasaran secara simultan yakni, pertama, pembersihan kedalam slagordenya sendiri secara terus menerus dan konsolidasi kedalam. Kedua, pengejaran dan penumpasan terhadap oknum-oknum ABRI yang karena terlibat dalam penghianatan itu kemudian melarikan diri kehutan. Ketiga, pengejaran dan pembersihan terhadap oknum-oknum masyarakat yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam gerakan penghianatan G30S PKI.
"Dalam hal ini dengan bekerja sama erat dan serentak dengan unsur-unsur masyarakat lain jang sudah berkobar-kobar akan mengganyang sisa-sisa G30S/PKI yang di Jawa Tengah dan Yogyakarta ini sangatlah besar jumlahnya," kata Jenderal Widodo.
Dari pengejaran dan penumpasan terhadap oknum-oknum utama utama pelaku Dewan Revolusi dari kalangan Kodam VII Diponegoro, kata Jenderal Widodo, hasilnya sebagai berikut:
Pertama, eks Letkol Usman Sastrodibroto, eks Mayor Soemadi Rahardjo, eks Kapten Soekarno dapat disergap pada tanggal 9 Desember 1965 oleh Batalyon "E" atau Batalyon 405 Brigif 4.
Kedua, penyergapan eks Kolonel Sahirman, eks Kolonel Marjono, eks Mayor Sukirno pada tanggal 14 Desember 1965 oleh RPKAD dan Puterpra Tengaran. Ketiga, oknum-oknum G30S PKI lainnya yang juga tertangkap di wilayah Jateng antara lain, eks Letkol Untung yang tertangkap pada tanggal 11 Oktober 1965 di Tegal oleh Kesatuan Hansip. Juga penyergapan terhadap eks Letnan Satu Dul Arif pada tanggal 5 Desember 1966 oleh Kesatuan Gabungan dari batalyon "B" atau Batalyon 402 dan pasukan dari KKO.
Selain itu pada tanggal 9 Desember 1965 dapat disergap eks Letnan Satu Údara Soekarno oleh Batalyon "E" atau Batalyon 405. Dan pada tanggal 25 Desember 1965 dapat disergap eks Kapten Suradi oleh aparat dari Korem 073.
Sementara mengutip buku,"Sejarah TNI AD Kodam VII/Diponegoro Sirnaning Yakso Katon Gapuraning Ratu," yang disusun bagian Sejarah Militer Kodam Diponegoro, disebutkan sebelum disergap sudah ada informasi yang masuk jika Lettu Dul Arief bersama dengan 40 orang lainnya berkeliaran di hutan daerah Pemalang.
Menurut Rum Aly dalam buku,"Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos dan Dilema: Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970," yang disusunnya, apa yang semula direncanakan sebagai “penjemputan" para jenderal untuk kemudian diperhadapkan kepada Presiden Soekarno setelah diinterogasi untuk memperoleh pengakuan akan melakukan kudeta, telah berubah menjadi peristiwa penculikan berdarah yang merenggut nyawa enam jenderal dan satu perwira pertama.
Hanya Jenderal Abdul Harris Nasution yang lolos. Dan Brigjen Soekendro ternyata tak 'dikunjungi' Pasopati pimpinan Lettu Dul Arief. Kenapa 'penjemputan' lalu berubah menjadi penculikan dengan kekerasan dan mengalirkan darah?
Ternyata, masih menurut Rum Aly dalam bukunya, tanpa sepengetahuan Brigjen Soepardjo dan Kolonel Abdul Latief, dua perwira yang paling tinggi pangkatnya dalam Gerakan 30 September, Letnan Kolonel Untung mengeluarkan perintah kepada Letnan Satu Dul Arief, untuk menangkap para jenderal target itu “hidup atau mati”.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: