Jejak Peradaban Truneng Mojowono Mojokerto
Автор: Ekspedisi Kota Lama
Загружено: 2026-02-08
Просмотров: 71
Описание:
Jejak Peradaban di Dusun ( Truneng)Turun Hyang.
Rahayu salam Peradaban dan Literasi.
Sabtu 7 Februari 2026 Team Artefak Nusantara kembali menelusuri Jejak peradaban didesa Mojowono Kemlagi Mojokerto bersama om Dewa Mega Angga,om Pardy Prafan Pandankrajan dan Agus Subandriyo masih bersama Ekspedisi Kota Lama, kali ini om Pardy Prafan dari Majelis Adat Mahendradatta Pandankrajan mengajak kami menelusuri jejak peradaban di dusun Truneng tempat Prasasti Turun Hyang ditemukan yaitu di pemakaman dusun Truneng, lokasi pemakaman ini berasa di lereng bukit,dengan persebaran gerabah dan keramik cukup masiv, tersebaran luas dipersawahan dengan kondisi yang sudah hancur, memasuki lokasi malam yang cukup tinggi dari tanah sekitar nya, bata bata kuno berukuran besar dengan bermacam ukuran cukup banyak ditemukan,ada yang seperti ditata menyangga tanah lokasi makam,mungkin supaya tidak mudah longsor,dari banyak bata bata kuno ini membuat dugaan adanya struktur bangunan yang diduga bangunan suci atau mungkin sisa Candi, selain itu ada 3 fragmen lumbang di ditemukan terpendam ditengah makam, menurut om Pardy lokasi makam ini memang bukan lokasi temuan Prasasti Turun Hyang tetapi cukup padat kekunoannya , mungkin Desa Turun Hyang saat itu cukup ramai peradabannya sejak era Jenggala setelah terpecahnya Medang Kahuripan demikian sekilas keterangan Prasasti Turun Hyang (1044 masehi) berasal dari dusun Truneng, Mojowono Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di prasasti ini menjelaskan tentang nama raja Janggala setelah pembagian wilayah ialah Mapanji Garasakan. Nama raja Kadiri tidak disebutkan dengan jelas, tetapi dapat diperkirakan dijabat oleh Samarawijaya, karena sebelumnya pada Prasasti Pandan (1042 masehi), ia sudah menjabat sebagai putra mahkota.
Prasasti Turun Hyang tersebut merupakan piagam pengesahan anugerah Mapanji Garasakan tahun 1044 terhadap penduduk desa Turun Hyang yang setia membantu Janggala melawan Kadiri. Jadi, pembagian kerajaan yang dilakukan oleh Airlangga terkesan sia-sia belaka, karena kedua putranya, yaitu Samarawijaya dan Mapanji Garasakan tetap saja berebut kekuasaan. Adanya unsur Teguh dalam gelar Samarawijaya, menunjukkan kalau ia adalah putra Airlangga yang dilahirkan dari putri Dharmawangsa Teguh. Sedangkan Mapanji Garasakan adalah putra dari istri kedua. Dugaan bahwa Airlangga memiliki dua orang istri didasarkan pada penemuan dua patung wanita pada Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan, yang diyakini sebagai situs pemakaman Airlangga.
Demikian Ekspedisi Kota Lama kali ini dari dusun Truneng Mojowono kemlagi Mojokerto, terimakasih om Pardy Prafan
Rahayu salam peradaban dan Literasi.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: