Majapahit Melintasi Jalur Ini, Jejaknya Dijaga Kakek Usia 104 Tahun Tinggal Dihutan Belantara
Автор: ASLI MOJOKERTO
Загружено: 2025-12-01
Просмотров: 407345
Описание:
Majapahit Melintasi Jalur Ini, Jejaknya Dijaga Kakek Usia 104 Tahun Tinggal Dihutan Belantara
#majapahit #istanamajapahit
Sebuah destinasi wisata alam di kawasan selatan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kini tampak terbengkalai setelah ditinggal sosok penjaga sekaligus pencetusnya, almarhum Moch. Matius, seorang budayawan dan tokoh spiritual berusia lebih dari satu abad. Wisata yang dikenal dengan nama “Lembah Harapan” ini terletak di Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, kawasan yang secara historis memiliki jejak panjang sejak era Kerajaan Kahuripan hingga Majapahit.
Desa Begaganlimo merupakan wilayah tua yang berada di sebuah lembah di kaki barat Gunung Arjuno–Welirang. Di bagian selatan desa, terdapat jalur hutan purba yang dahulu menjadi penghubung kerajaan Singasari–Kediri dengan wilayah Jenggala dan Majapahit di utara. Di kawasan hutan inilah Lembah Harapan dibangun oleh Matius sebagai tempat meditasi dan penghayatan spiritual.
Saat tim berkunjung ke lokasi, perjalanan menuju kawasan wisata ini harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati jalur ekstrem, melintasi semak-semak serta sungai kecil. Dalam perjalanan, tim bertemu seorang warga setempat, Pak Tari, yang kemudian mengantarkan menuju lokasi wisata tersebut.
Setibanya di area Lembah Harapan, tampak sejumlah bangunan dan fasilitas sederhana yang kini tidak terawat. Di antaranya papan kayu bertuliskan “Lembah Harapan”, sebuah gubuk reot, rumah kosong, etalase tua, serta beberapa foto pengunjung dan potret almarhum Matius yang tertinggal di dalam bangunan.
Menurut warga, kawasan wisata ini dulunya ramai dikunjungi masyarakat, terutama karena karakter almarhum Matius yang dikenal sebagai tokoh berpengaruh di Gondang. Pria yang disebut-sebut berusia 102 tahun tersebut merupakan penggagas berdirinya Lembah Harapan dengan tujuan utama menyediakan ruang perenungan dan ketenangan di tengah alam.
Matius membangun gubuk kecil di tepi sungai sebagai tempat meditasi pribadi. Seiring waktu, ia menata lingkungan sekitar tanpa merusak alam, menghadirkan suasana religius dan alami yang membuat banyak pengunjung tertarik. Namun, Matius menolak upaya pengembangan komersial dan memilih mempertahankan konsep sederhana sesuai tujuan awalnya.
Warga juga menyebutkan bahwa di sejumlah titik area wisata masih dapat ditemukan petuah-petuah moral yang ditinggalkan Matius. Pesan-pesan tersebut dahulu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Sejak wafatnya Matius, Lembah Harapan perlahan sepi dan tidak lagi terawat. Meski begitu, daya tarik alam dan sejarah kawasan ini masih menghadirkan potensi wisata yang besar bagi masyarakat dan pemerintah daerah apabila dilakukan penataan ulang.
Hingga kini, Lembah Harapan masih menyisakan jejak sang pendirinya serta kisah perkembangan budaya spiritual di wilayah Mojokerto bagian selatan, dan menjadi pengingat akan peran tokoh-tokoh lokal dalam menjaga hubungan manusia dengan alam.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: