Beberapa Potret Para Suster Terekat Penolong Kristus - Di Keuskupan Agung Merauke - Tempo Dulu.
Автор: Engelberto Namsa
Загружено: 2024-07-15
Просмотров: 415
Описание:
Hidup Gereja Lokal dianggap kurang lengkap kalau belum ada orang, yang berdasarkan panggilan, mengabdikan diri secara total kepada Kristus dan Gereja-Nya. Gereja Keuskupan Agung Merauke belum berusia 100 tahun. Namun kalau dibandingkan dengan gereja-gereja lokal di wilayah lain, harus dikatakan bahwa Gereja Keuskupan Agung Merauke masih muda dan pasti masih akan berkembang. Menjadi imam, bruder atau suster adalah proses yang pelan-pelan berkembang dan boleh dikatakan bahwa itulah jalan yang panjang.
Pada tahun 1950, Mgr. Hermanus Tillemans MSC (Uskup Pertama Keuskupan Agung Merauke) mendirikan Tarekat Suster untuk anak-anak Papua, yaitu Tarekat Penolong Kristus. Tarekat ini mulai di bawah bimbingan Suster PBHK, yaitu Sr. Perpetua, PBHK dengan langkah pertama postulat dan kemudian novisiat. Pada permulaannya ada cukup banyak calon terlebih dari Pantai Selatan Papua, tetapi tidak begitu banyak yang bertahan dan sampai pada kaul religius.
Hidup membiara meminta perubahan hidup total dari para wanita muda itu, ditambah lagi ada seleksi yang sungguh-sungguh. Namun hal ini tidak berarti bahwa cara hidup ini tidak sesuai dengan kehidupan orang Papua. Ada yang mulai, meneruskan dan bertahan selama 40, 30 atau 25 tahun dalam hidup membiara. Mereka itu ialah Sr. Katerin, Sr. Lucia, Sr. Ancilla, dan beberapa suster yang lain. Karena daya tarik tarekat ini kurang kuat atau karena keterbatasan kemampuan maka dicari jalan keluar yaitu untuk menggabungkan tarekat ini dengan tarekat yang lebih luas dan universal. Hal ini dilaksanakaan pada tahun 1967. Semua anggota Tarekat Penolong Kristus, kecuali satu anggota, bergabung dengan Tarekat Para Suster PBHK, yang sudah bekerja di Merauke sejak tahun 1928.
Meskipun ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mempromosikan panggilan kehidupan membiara ini namun hasilnya kurang memuaskan dan jumlah suster Irian tidak cukup untuk melanjutkan pekerjaan tarekat. Hal ini lebih nyata lagi waktu suster-suster dari Belanda meninggalkan Merauke. Tarekat suster PBHK yang bertugas di Maluku dan Jawa mengirim suster dari sana untuk memperkuat komunitas di Keuskupan Agung Merauke. Hal ini dimungkinkan karena sejak tahun 1995 telah terjadi "Unifikasi" para suster PBHK yang berkarya di Indonesia menjadi satu Provinsi Suster PBHK Indonesia.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: