Tembok Ratapan di 'YeruSOLO' : Satire Warganet tentang Rumah Jokowi di Solo
Автор: Tribun Solo Official
Загружено: 2026-02-16
Просмотров: 2395
Описание:
Tulisan Wartawan TribunSolo.com/Fikri Febriyanto
Di sebuah gang tenang di Kelurahan Sumber, Solo, sebuah pagar rumah berubah menjadi panggung drama sosial.
Tak ada marmer Italia atau ukiran khas keraton. Hanya pagar besi coklat sederhana, dan aspal gang yang kadang dipenuhi sandal pengunjung.
Namun warga internet menjulukinya dengan nama “Tembok Ratapan”. Ada pula yang berseloroh menyebutnya “YeruSOLO” hingga “Kuil SOLOmon”, permainan kata yang lahir dari imajinasi warganet.
Inilah rumah pribadi Joko Widodo, mantan Presiden Republik Indonesia. Sejak tak lagi menjabat, rumah itu kembali menjadi alamat biasa. Namun justru di situlah, cerita-cerita tak biasa bermunculan.
Gang kecil di Banjarsari itu sejatinya hanya jalur penghubung warga menuju pasar dan masjid. Pagi hari, ibu-ibu lewat dengan tas belanja. Sore hari, anak-anak bersepeda kecil. Tetapi beberapa bulan terakhir, wajah gang berubah. Orang-orang datang dengan tujuan yang lebih simbolik: berdiri di depan pagar, menatap ke dalam, memotret, atau sekadar berdoa dalam diam.
Istilah “Tembok Ratapan” lahir dari satire media sosial. Analogi yang diambil dari Tembok Barat di Yerusalem, tempat orang-orang menyelipkan doa dan harapan dipindahkan ke sudut gang di Sumber. Di sini, keluhan tentang harga sembako, curhat soal pekerjaan, hingga rasa rindu pada masa jabatan lalu, mengalir dalam bentuk yang beragam.
Pernah suatu sore, sekelompok warga menggelar doa bersama di pelataran aspal depan pagar, Tahlilan digelar khidmat. Tidak ada spanduk, tidak ada pengeras suara berlebihan. Hanya lantunan doa dan beberapa kamera ponsel yang merekam. Bagi sebagian orang, tembok itu menjadi simbol kedekatan—akses yang terasa langsung kepada sosok yang pernah memimpin negeri.
Namun waktu bergerak, dan narasi pun bergeser.
Di tangan generasi Z, lokasi ini bertransformasi menjadi fenomena pop culture. Titik koordinatnya di peta digital sempat diberi nama-nama unik. Konten TikTok bermunculan: ada yang datang dengan gaya vlog, ada yang membuat video motivasi, ada pula yang bercanda tentang mencari “karomah kesuksesan” dengan berfoto di depan pagar tersebut.
Bagi anak-anak muda itu, tembok bukan lagi sekadar batas fisik. Ia adalah latar, simbol, bahkan meme. Mereka tidak datang untuk berdemo. Mereka datang untuk berswafoto, mengabadikan momen di tempat yang sedang viral, lalu membagikannya ke linimasa.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: ruang publik tak selalu berupa alun-alun atau gedung megah. Kadang ia lahir dari pagar rumah sederhana. Dari gang sempit yang tak pernah dirancang menjadi simbol apa pun.
Di Kelurahan Sumber, tembok coklat itu tetap berdiri sunyi. Ia tak bicara, tak membalas doa, tak menanggapi kritik. Namun setiap hari, ia menjadi saksi bagaimana masyarakat memaknai kekuasaan setelah ia usai dengan doa, dengan keluh, atau sekadar dengan kamera ponsel dan tawa ringan.
Dan mungkin, di situlah letak dramanya: sebuah rumah pribadi, di sudut kota, yang tanpa pernah meminta, menjelma menjadi cermin sosial zaman.
Kediaman Jokowi Ditandai "Tembok Ratapan Solo" di Google Maps, Ajudan Tanggapi Santai
Meski terkesan menyudutkan presiden ketujuh tersebut, Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah menanggapinya secara santai. Ia mengaku tidak tersinggung dengan sindiran ini.
"Kalau saya biasa saja," ungkapnya saat dihubungi Senin (16/2/2026).
Syarif mengaku telah mengetahui adanya penyebutan ini. Namun ia belum bisa memastikan apakah Jokowi mengetahui atau belum.
(*)
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: