Kerauhan Sri Jaya Pangus, Sri Jaya Katong dan Sri Karang Buncing di Pr. Penulisan Kintamani, Bangli
Автор: Watukembar_Bali
Загружено: 2020-06-28
Просмотров: 65816
Описание:
Hari Watugunung Runtuh acara Tirtayatra keluarga Sri Karang Buncing Buleleng, Sesetan dan Badung di Pura Pucak Penulisan, kami "pemulung" jejak leluhur sangat beruntung mendapatkan "pawuwus" tentang keberadaan sejarah pura Pucak Penulisan yg dibangun oleh Raja Sri Jaya Pangus dgn Istri Cina Kang Ci Wi (Ratu Ayu Sahbandar) terhadap kesan dan kesan kehidupan keluarga besar Karang Buncing yg lalu dan kini.
#INGA INGA ,, bagi yg tidak nganut mohon jgn komen, duduk yg manis dengar boleh ngaka selebar lebarnya ,, kami di Bali percaya dgn Panca Srada ,,
Mungkinkah Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa akan menampakkan diri dalam setiap upacara keagamaan yang ada di dunia ini? Objek teologi adalah Tuhan/ Hyang Widhi, berbicara mengenai eksistensi-Nya, esensi-Nya dan aktivitas-Nya. Bagaimana jika seseorang ingin mendapatkan pelajaran kepada suatu Pura atau Dewa junjungan yang tidak kelihatan kasat mata, tentang lulus tidak, diterima tidaknya doa dan upakara, Apakah Ida Bhatara/ Tuhan akan menampakkan diri dan berkata telah lulus atau upakara diterima kemudia Tuhan sirna begitu saja?
Melalui konsep Panca Srada, yaitu 1) Hindu, percaya dengan adanya Brahman/ Tuhan, 2) Hindu, percaya dengan adanya Atman, Roh, Jiwa, Spirit. 3) Hindu, percaya dengan adanya Hukum Karma Pala (sebab akibat). 4) Hindu, percaya dengan adanya Punarbawa (kelahiran berulang). 5) Hindu, percaya dengan adanya Moksah (pelepasan).
Jangankan mengetahui keberadaan Tuhan/ Sang Pencipta Alam Semesta adalah suatu kemustahilan, mengetahui Roh leluhur saja sulitnya luar biasa. Metode kedatangan Roh umumnya dipakai untuk menanyakan suatu hal yang berhubungan dengan parahyangan (tempat suci, pura), pawongan (penduduk), palemahan (wilayah desa, kuburan). Sangat beruntung bagi orang-orang yang dipilih raganya oleh roh leluhur, roh resi, roh dewa, roh bhuta. Kerauhan tidak bisa diminta dan tidak bisa ditolak, tidak pandang status apapun mereka, baik berbadan kekar, bertatto, tua muda, laki perempuan, orang suci, intelektual, jika beliau berkehendak siapun bisa kerauhan didalam penyampaian pesan dan kesan dari alam lain/ kekuatan astral.
Kerauhan ada 5 (lima) kelompok besar sesuai dengan Panca Yadnya yaitu;
1/ Kerauhan Dewa,
2/ Kerauhan Resi,
3/ Kerauhan Manusa,
4/ Kerauhan Pitra,
5/ Kerauhan Bhuta.
Ada beberapa kriteria untuk menentukan kerauhan apa dan siapa mereka yaitu;
A/ Dari, menyebut diri bila ditanya atau sang roh yang menyebut diri.
B/ Dari, kesenangan/ permintaan sang roh.
C/ Dari, bahasa akan diketahui.
D/ Dari,ngaluhur/ detik-detik sadar, apa tengkurep ke depan, belakang atau loncat.
E/ Dari, genetik atau treh yang membangun awal pura atau desa setempat.
F/ Dari, gerak tingkah laku orang kerauhan itu.
G/ Dari, kerauhan dewa tidak pernah ngurek keris ke tubuhnya
H/ Dari, busana yang dipakai sebagai simbol identitas sang roh
I/ Dari, pertemuan segitiga wajah kawitan, wajah nabe niskala dan Anda
J/ Dari, wuku kelahiran, siapa nama dewa dan sifat dari dewanya.
K/ Dari latar belakang, dari sakit menjadi sehat, dari miskin menjadi kaya
L/ Dari, titik awal kerauhan dan proses jati diri dimana akan mengabdi.
Kerauhan “dewa utama” dari pura setempat harus terstruktur, tidak mungkin dewa utama akan hadir tanpa diikuti oleh kerauhan pengawal, prakanggo, pararencang, pengayah, pengiring beliau lainnya (kerauhan masal). Ibarat Bapak Presiden dengan kendaraan plat RI 1 Indonesia turun ke lapangan tentu dikawal oleh paspampres, prajurit TNI, POLRI dan bawahannya. Kemudian kita semua memberi hormat kepada kendaraan/ wahana Bapak Presiden, walaupun kita tidak melihat Bapak Presiden didalamnya karena tertutup oleh kaca gelap. Jadi para Dewa tidak akan datang jika tidak dijemput oleh wahana/ kendaraan beliau. Di sini fungsi dari haturan/ banten umat untuk para Bhuta dan Pengiring-pengiring bliau, bukan diperuntukan kepada para Dewa. Identik pelawatan Barong yang berupa, babi, macan, singa, barong ket dan bentuk binatang lainnya, adalah wahana tertinggi wilayah sekitar. Kemudian umat menghaturkan sembah kepada binatang itu? Hanya manusia yang bisa kerauhan, baik kerauhan Dewa maupun kerauhan Bhuta. Kenapa binatang tidak bisa kerauhan manusia, selama ini hanya manusia yang dipinjam badan raganya oleh Roh binatang atau hewan lain. Katanya manusia lebih tinggi kedudukannya dari binatang. Sebenarnya video ini panjang krn memori hape penuh mulai kedatangan Roh Istri Jaya Pangus dan suami, Jaya katong, Kebo Iwa dan Gajah Mada ,, sekelumit dialog Kebo Iwa dgn Gajah Mada di vedeo lain ,, hasil tgl 28/6/2020 Monggo disimak sampai habis ,, Rahayu rahayu ,,
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: