Nasib Apes Mayjen Pranoto Reksosamudro
Автор: Intel Melayu
Загружено: 2023-09-30
Просмотров: 177670
Описание:
Nasib Apes Mayjen Pranoto Reksosamudro
Nasib apes Mayjen Pranoto Reksosamudro. Mayjen Pranoto Reksosamudro adalah jenderal Angkatan Darat yang ditunjuk Presiden Soekarno sebagai caretaker atau pejabat sementara Menteri Panglima Angkatan Darat dalam rapat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta pada 1 Oktober 1965.
Ketika itu, nasib Letjen Achmad Yani, Menteri Panglima Angkatan Darat yang diculik komplotan Gerakan 30 September belum diketahui. Dalam rapat itu, hadir pula Brigjen Soepardjo, salah satu pentolan Gerakan 30 September. Pejabat lain yang hadir dalam rapat di Halim Perdanakusuma membahas pengganti Jenderal Yani yang diculik adalah Menteri Panglima Angkatan Udara Omar Dani, Menteri Panglima Angkatan Kepolisian, Jenderal Sucipto Yudodiharjo, Menteri Panglima Angkatan Laut Laksamana Martadinata, Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa dan Waperdam II Leimena. Rapat dipimpin langsung Presiden Soekarno.
Dalam rapat itu, beberapa nama jenderal diusulkan antara lain Jenderal Soeharto, Mursyid, Basuki Rachmat dan Ibrahim Adjie. Brigjen Soepardjo dalam rapat tersebut sebagai perwakilan dari Gerakan 30 September mengusulkan nama Mayjen Rukman dan Mayjen Pranoto Reksosamudro. Akhirnya yang dipilih Presiden Soekarno adalah Mayjen Pranoto, calon yang diusulkan Brigjen Soepardjo, jenderal perwakilan dari Gerakan 30 September.
Ketika itu, Mayjen Pranoto Reksosamudro menjabat sebagai Asisten III Menteri Panglima Angkatan Darat. Jadi dia itu ya termasuk anak buahnya Letjen Achmad Yani di Angkatan Darat. Soal penempatan Mayjen Pranoto sebagai Asisten III, ada cerita menarik yang diungkapkan Jenderal Abdul Haris Nasution, salah satu jenderal yang selamat dari upaya penculikan komplotan Gerakan 30 September yang ketika itu menjabat sebagai Menko Hankam merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
Dalam buku," Peristiwa 1 Oktober 1965, Kesaksian Jenderal Besar Abdul Haris Nasution: Apa yang Sesungguhnya Terjadi?" Jenderal Nasution mengungkapkan, bahwa penempatan para perwira TNI yang kemudian jadi pentolan Gerakan 30 September dalam jabatan vital seperti Brigjen Soepardjo, Kolonel Latief dan Letkol Untung Syamsuri, ada peran dari Mayjen Pranoto sebagai Asisten III Menpangad yang mengurusi masalah personalia.
Kata Jenderal Nasution, penempatan Soepardjo, Latief dan Untung dalam pos jabatannya tidak terlepas dari peran Mayjen Pranoto sebagai Asisten III Menpangad.
Nasution juga mengungkapkan, Jenderal Yani pernah mengatakan kepadanya jika penempatan Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagai Asisten III Menpangad bukan atas pilihan Jenderal Yani. Tapi penempatan Mayjen Pranoto sebagai Asisten III Menpangad langsung atas perintah Presiden.
Kesaksian lain soal Mayjen Pranoto diungkapkan oleh Jenderal Maraden Panggabean dalam buku,"M Panggabean, Jenderal dari Tano Batak," yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat.
Ketika itu Panggabean masih Mayjen dan sedang menjabat sebagai Deputi Wilayah atau Panglima
Komando Antar Daerah Kalimantan merangkap
Panglima Kolaga II/Dwikora. Dalam buku tersebut, Jenderal Maraden Panggabean bercerita, bahwa pada tanggal 3 Oktober 1965, sekitar pukul 10.00 ia menghadiri rapat staf
di Markas Staf Umum Angkatan Darat atas panggilan pejabat sementara Panglima Angkatan Darat Mayjen Pranoto
Reksosamudro.
Saat itu, Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten III Menteri Panglima Angkatan Darat telah ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai pejabat sementara atau caretaker Menteri Panglima Angkatan Darat yang sebelumnya dipegang oleh Letjen Ahmad Yani. Kala itu, menurut Panggabean, nasib para jenderal korban penculikan belum diketahui. Meski lokasi tempat disembunyikannya jenazah para jenderal korban penculikan telah diketahui, yakni di Desa Lubang Buaya tak jauh dari komplek Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur.
Hari itu, saat Mayjen Panggabean menghadiri rapat di Markas Staf Umum Angkatan Darat, pada hari yang sama tanggal 3 Oktober 1965 para perwira angkatan darat lainnya menuju Lubang Buaya, suatu desa di
sekitar kompleks Pangkalan Udara Halim.
Mayjen Panggabean menghadiri rapat Staf Umum Angkatan Darat mewakili Koanda/Kowilhan Kalimantan, karena Panggabean secara kebetulan berada di Jakarta.
Rapat dipimpin oleh Mayjen Pranoto sebagai pejabat sementara Panglima Angkatan Darat.
Dalam rapat di Markas Staf Umum Angkatan Darat itu, Mayjen Pranoto
menjelaskan bahwa menurut keputusan Presiden Soekarno dia telah
diangkat sebagai pejabat sementara Menteri Panglima Angkatan Darat. Dalam rapat itu, Mayjen Pranoto juga meminta agar TNI Angkatan Darat segera
melakukan konsolidasi ke dalam. Setelah Pranoto berbicara, pada kesempatan itu dalam rapat tersebut, Mayjen Panggabean mengusulkan agar diteruskan upaya mencari para perwira
tinggi yang diculik. Mayjen Panggabean juga meminta agar diambil tindakan yang tegas terhadap pelaku penculikan.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: