Menanam Pohon di Petilasan Brawijayan di Gunung Genthong
Автор: nandur
Загружено: 2026-01-16
Просмотров: 8
Описание:
MÊNANAM DI PÊTILASAN BRAWIJAYAN DI GUNUNG GÊNTHONG --- Mitologi menyatu tak terpisahkan dengan ekologi, dengan geografi, dengan sejarah, dengan biologi,.... Cerita-cerita mitis tentang seorang "tokoh unggul" yang melakukan perjalanan dan mendatangi suatu tempat sakral, melakukan aktivitas spiritual dan pertanian di papan itu karena keunggulan-keutamaan wilayahnya, kemudian memutuskan untuk tinggal berumahtangga atau melanjutkan perjalanannya dan mengabarkan ilmu pengetahuan, banyak ditemui di geografi Gunungkidul. Mitologi mengabarkan sang tokoh beserta ilmu pengetahuan yang melekat padanya dan aktivitasnya.
Mitologi menceritakan kesatuan antara sang tokoh dan lingkungan hidupnya: manusia ekologis.
Petilasan tokoh Majapahitan Brawijayan di Gunungkidul salah satunya (masih) tertemui di Gunung Gênthong Dusun Manggung Kalurahan Ngalang Kapanewon Pathuk. Petilasan berada di lereng Gunung Genthong, di seberang area persawahan, di sebuah "hutan keramat alami" dengan aneka jenis pepohonan khas seperti Balabag, Laban, dan Kêpuh. Ritus Nyadran atau Sadranan dilaksanakan oleh masyarakat setiap perulangan tahun periodik, sebagai penghormatan-pemuliaan leluhur "bibit kawit cikal bakal". Seperti nama dirinya, petilasan berada di sebuah "manggungan" (tanah tinggi), papan sang tokoh "manggung": tanpa berhenti melakukan "tapa brata tèki-tèki": berpuasa diri.
Menanam aneka jenis pohon di Gunung Gênthong serasa kosok-bali: bukan si penanam yang mengkolonikan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan ekologisnya lewat menanam justru terbanjiri energi lingkungan petilasan yang damai-sejuk, babad-sejarah orang-orang Ngalang dan sekitarnya, keanekaragaman hayati yang amat banyak belum dimengerti.
Menampar muka para penanam yang sok-sokan mengetahui. Miskin pengetahuan tentang "pakêbonan" (lingkungan hidup) sendiri.
Pangajabé para luhur nguni, dadya janma kaot, mring wêwulang aywa nganti supé, maca-nulis niti kang tabêri, sarta ulah-pikir, rumasuk ing kalbu.
(Harapan para leluhur dulu, jadilah manusia yang unggul (memiliki ilmu), terhadap ajaran leluhur jangan sampai lupa, membaca menulis meneliti yang sungguh-sungguh, serta mengolah akal, merasuk dalam hati.)
Mbokmnênawa ing atêmbé wuri, manjur dadya omong, nuwuhaké tutur-wasitané, gumilaran cahya Sang Hyang Rawi, sukur samya bangkit, mungguhké Sang Ibu.
(Barangkali di kemudian hari nanti, manjur sebagai kata-kata (warisan leluhur), menumbuhkan (kembali) ajaran luhurnya, berpendaran cahaya Bapa Langit (Tuhan), terlebih jika semua bersama-sama bangkit, memuliakan Sang Ibu (Bumi).
Rah-hayu! Dirga-hayu!
@gunungkidulmenginspirasi @litera.id @kridamudasumberjo @kknt.desangalang25
@_seloaji_ @kabudayan.nglanggeran @mahardekahutama @isol_tnjg @ikhsanfahrony87 @pamungkasrmdni_ @faridstevy @wamzz_1214 @andikaimasd @rekayasa_tekniik @nyemuk26 @josu_id @dewikenc_ @lumbung_kawruh @sanggarori_gunungkidul @budiwibowo_75 @kknt.desangalang25 .....
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: