Reog Ponorogo Di Akui UNESCO 2024 Bumi Reog Berzikir Karya Budaya
Автор: Jejak Budaya NKRI
Загружено: 2026-01-01
Просмотров: 38
Описание:
Srikaton kecamatan adiluwih kabupaten Pringsewu
082261568780
Ya, Reog Ponorogo diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia pada Sidang ke-19 di Paraguay tanggal 3 Desember 2024, masuk dalam kategori “In Need of Urgent Safeguarding” (Memerlukan Perlindungan Mendesak) untuk memastikan kelestariannya, menjadikannya warisan budaya ke-14 Indonesia yang diakui UNESCO. Pengakuan ini menandai komitmen global untuk menjaga seni tradisional ini, yang kaya akan nilai mitologi dan identitas budaya Ponorogo, dari tantangan modernisasi.
Poin-Poin Penting Pengakuan Reog Ponorogo oleh UNESCO:
Tanggal Pengakuan: 3 Desember 2024.
Lokasi Sidang: Asunción, Paraguay.
Kategori: In Need of Urgent Safeguarding (Memerlukan Perlindungan Mendesak).
Warisan ke-14 Indonesia: Reog Ponorogo menjadi Warisan Budaya Takbenda ke-14 dari Indonesia yang diakui UNESCO.
Tujuan: Menegaskan identitas budaya Indonesia dan mendorong upaya pelestarian di tengah tantangan modernisasi, seperti menurunnya minat generasi muda.
Elemen Kunci: Seni pertunjukan yang memadukan tari, musik gamelan, dan mitologi, dengan ikon Dadak Merak (topeng harimau berhias bulu merak).
Apa Artinya Bagi Reog Ponorogo?
Pengakuan ini meningkatkan citra Reog Ponorogo di mata dunia dan menjadi dorongan besar bagi Pemerintah Indonesia serta komunitas lokal untuk terus melestarikan, mengembangkan, dan mentransmisikan pengetahuan serta keterampilan seni Reog kepada generasi muda.
Sejarah Reog Ponorogo memiliki dua versi utama yang paling dikenal, yakni sebagai simbol perlawanan politik dan sebagai legenda cinta yang romantis. Hingga Januari 2024, kesenian ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.
Berikut adalah poin-per-poin sejarah dan perkembangannya:
1. Versi Perlawanan (Ki Ageng Kutu)
Asal-usul Reog bermula dari sindiran politik Ki Ageng Kutu (penguasa Wengker) terhadap Raja Brawijaya V dari Majapahit pada abad ke-15.
Singo Barong (Harimau): Melambangkan Sang Raja yang gagah namun dikendalikan oleh pengaruh istrinya.
Bulu Merak: Melambangkan pengaruh kuat Sang Permaisuri di atas kepala raja.
Warok & Jathil: Melambangkan pasukan Ki Ageng Kutu yang setia dan kuat sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritas Majapahit.
2. Versi Legenda (Kerajaan Bantarangin)
Versi ini menceritakan perjalanan Raja Kelono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin yang ingin meminang Dewi Sanggramawijaya (Putri Kediri).
Sang Putri mengajukan syarat berupa pertunjukan seni yang belum pernah ada sebelumnya.
Raja Kelono berhasil menciptakan tarian yang melibatkan makhluk berkepala harimau dengan hiasan merak (Singo Barong) untuk memenuhi syarat tersebut.
3. Tokoh-Tokoh Utama
Pertunjukan Reog melibatkan beberapa karakter ikonik:
Klono Sewandono: Raja sakti dengan pusaka Pecut Samandiman.
Singo Barong: Penari yang memikul topeng raksasa (Dadak Merak) seberat 30-50 kg menggunakan kekuatan gigi.
Jathil: Prajurit berkuda (kuda lumping) yang melambangkan ketangkasan.
Warok: Sosok pemimpin spiritual yang memiliki kekuatan batin dan fisik yang besar.
Bujang Ganong: Patih raja yang lincah dan jenaka.
4. Perkembangan & Islamisasi
Setelah kekuasaan Ki Ageng Kutu berakhir, Raden Bathoro Katong (putri dari Brawijaya V yang menyebarkan Islam di Ponorogo) menyempurnakan kesenian ini. Reog kemudian digunakan sebagai media dakwah Islam dan simbol perjuangan melawan penjajahan.
Kini, Reog Ponorogo secara resmi telah mendapatkan pengakuan internasional dari UNESCO pada akhir 2024 sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang mendunia.
1 januari 2026.
Asal mula Reog Ponorogo berasal dari legenda Raja Kelana Sewandana dari Kerajaan Bantarangin yang melamar Putri Dewi Ragil Kuning dari Kerajaan Kediri, namun dihadang oleh Raja Singabarong, yang memicu perang antara pasukan merak dan singa melawan para warok sakti, yang akhirnya berdamai dan menjadi inspirasi pertunjukan Reog yang melambangkan konflik dan penyatuan dua kerajaan, dengan unsur magis dan simbolisme yang kuat, yang awalnya merupakan sindiran politik terhadap penguasa Majapahit sebelum diadaptasi menjadi cerita Panji.
Versi Legenda (Kelana Sewandana)
Raja Kelana Sewandana: Raja Ponorogo (Bantarangin) yang ingin meminang Putri Dewi Ragil Kuning (atau Sanggalangit) dari Kediri.
Konflik: Dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri dengan pasukan merak dan singa.
Perang: Raja Kelana didampingi wakilnya, Bujang Anom, serta para warok berilmu hitam, bertempur sengit dengan Singabarong.
Hasil: Pertempuran berakhir damai, pinangan diterima, dan perang ini menjadi cikal bakal seni Reog.
Versi Sindiran Politik (Ki Ageng Kutu)
Sindiran: Awalnya merupakan sindiran Ki Ageng Kutu terhadap Raja Majapahit (Brawijaya V) yang dianggap lemah.
Tokoh: Melibatkan Jathil (menggambarkan prajurit tak berdaya) dan Bujang Ganong (pujangga bijak yang tak dihargai).
Perkembangan: Setelah Ki Ageng Kutu, Reog disempurnakan oleh Bathoro Katong dan cerita diubah menjadi kisah Panji (Kelana Sewandana
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: