ISI PRATANDA RAMALAN PEMBUKAAN CUPU KYAI PANJALA 2024 - 2025 | RANGKUMAN TERBARU
Автор: Manggala Channel
Загружено: 2024-10-16
Просмотров: 111658
Описание:
#cupupanjala #ramalan #budaya #gunungkidul #manggalachannel
Pembukaan Cupu Kyai Panjolo terbaru 2024
Cupu Kyai Panjala
Ketiga Cupu tersebut bernama Semar Tinandu, Palang Kinantang dan Kenthiwiri inilah yang sudah mendarah daging hingga saat ini bagi masyarakat Yogyakarta. Semar Tinandu adalah Cupu paling besar sebagai gambaran keadaan penguasa dan pejabat tinggi, Palang Kinantang adalah cupu menengah sebagai gambaran untuk masyarakat menengah, sedangkan Kenthiwiri adalah Cupu terkecil gambaran untuk rakyat kecil atau kawulo alit.
Prosesi pembukaan Cupu Kyai Panjolo adalah membuka lembar demi lembar kain kafan sebagai singep pembungkus Cupu dalam sebuah kotak kayu. Kain kafan yang awalnya putih tersebut setelah digunakan membungkus Cupu Kiai Panjala akan menampakkan berbagai gambar. Tidak jarang juga ada benda di sela-sela lembaran kain..
Menurut cerita yang berkembang dari dulu di masyarakat, Cupu Kiai Panjala didapat Eyang Seyek nama asli Kiai Panjala saat menjala (menjaring) ikan di lautan sekitar 550 tahun yang lalu.
Sampai saat ini Cupu Kyai Panjala diyakini sebagai simbol atau alat peramal kondisi atau kejadian bangsa Indonesia dalam masa setahun ke depan.
Konon berdasarkan salah satu cerita turun temurun, awalnya Cupu Kiai Panjala yang berupa tiga guci ini diselimuti kain agar tidak gampang pecah dan rusak. Namun setelah setahun kemudian dibuka oleh Eyang Seyek kain pembungkusnya muncul beberapa gambar yang menunjukkan hubungan dengan hasil pertanian.
Lalu munculnya gabah besar besar di sela-sela kain lalu dikaitkan dengan hasil pertanian akan yang bagus. Kebetulan satu tahun kemudian hasil pertanian melimpah ruah. Kemudian beberapa tahun selanjutnya muncul juga gabah puso di kain yang kemudian diyakini menjadi pertanda banyak gagal panen bagi kaum tani. Begitu juga dengan kain yang basah. Bagi para petani dipercaya bagus untuk pertanian karena akan banyak hujan. Namun apabila kering, diprediksi air semakin sulit. Sehingga Cupu Kyai Panjala dipercaya untuk memprediksi hasil pertanian satu tahun ke depan.
Untuk itulah pembukaan cupu satu tahun sekali dilakukan sebelum musim penghujan dan pada malam Selasa Kliwon pada bulan Suro. Hal ini dilakukan turun temurun sejak ratusan tahun lalu hingga saat ini.
Namun seiring waktu kemudian berkembang pada situasi dan juga kejadian di negara Indonesia. Dalam perkembangannya, Cupu Kiai Panjala diyakini sebagai simbol atau alat peramal untuk kondisi atau kejadian bangsa Indonesia dalam masa setahun ke depan. Sejumlah kejadian yang dikaitkan dengan ramalan Cupu Kiai Panjala.
Cupu Kyai Panjala saat ini ada 3 yakni Semar Tinandu, Palang Kinantang dan Kenthiwiri. Sebenarnya, jumlah Cupu Kyai Panjala ada lima, namun ada dua yang hilang yakni bernama Bagor dan Klobot.
Dahulu isi kotak itu tidak hanya Semar Tinandu, Palang Kinantang dan Kenthiwiri saja, melainkan ada Bagor dan Klobot. Konon ceritanya, karena klobot dalam istilah Jawa adalah kulit jagung, sedangkan Bagor itu karung, maka keduanya merasa tidak dihormati.
Dwijo Sumarto mengetahui cerita hilangnya dua cupu tersebut berasal dari cerita nenek moyang. Ia menjelaskan, Cupu Kyai Panjala berada di kediamannya sekarang ini sejak tahun 1957. Sebelumnya berada di sekitar atau depan Balai Desa Girisekar.
Bahkan sebelumnya berada di Temu Ireng, Girisuko, Panggang. Ritual pembukaan Cupu Kyai Panjala ini sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Eyang Seyek adalah nama asli Kyai Panjala. Eyang Seyek merupakan orang yang menemukan dan memiliki Cupu Kyai Panjala.
Banyak warga lokal bahkan juga dari luar kota yang masih percaya akan hasil ramalan dari gambar yang tertera pada kain pembungkus cupu tersebut, maka digunakanlah acara ritual pembukaan Cupu tersebut untuk meminta berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Juru doa akan mengiringi acara makan bersama, juga menyampaikan doa puluhan orang yang mempunyai hajat sekaligus menghaturkan mereka yang terkabul doanya, yang kemudian dalam sesajinya sebagai wujud syukur menyertakan ingkung, serta membantu memberikan singep (selimut) Cupu Kyai Panjala.
Kesimpulan yang saya dapatkan dari ritual ini adalah bahwa kita harus senantiasa untuk 'Eling dan Waspada', selalu ingat kepada Tuhan dengan cara bersyukur atas apa yang telah dikaruniakan kepada kita, dan untuk selalu Waspada dalam setiap langkah yang kita lakukan. Cupu adalah sebuah benda yang hanya sekedar sebagai perantara saja untuk Eling dan Waspada.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: