Dewi Fortuna Anwar: Politik Luar Negeri, ASEAN, dan Budaya Minangkabau | Menjadi Indonesia #36
Автор: NU Online
Загружено: 2026-01-20
Просмотров: 2361
Описание:
Dalam program Menjadi Indonesia episode 36, NU Online menghadirkan Prof. Dewi Fortuna Anwar, Peneliti Senior BRIN sekaligus analis politik luar negeri terkemuka. Perempuan kelahiran Bandung yang besar di Payakumbuh ini mendalami sejarah Asia Tenggara dan Timur Tengah di SOAS University of London dengan tesis master berjudul ‘The Ka'bah and the Garuda, The Dilemma of Islam in Indonesian Politics’ (1982). Gelar doktoralnya kemudian diraih di Monash University dengan fokus pada peran Indonesia di ASEAN.
Sebagai mantan asisten Wapres bidang globalisasi di era B.J. Habibie, Dewi memberikan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri saat ini. “Yang banyak mendapat kritik sekarang, termasuk dari saya, adalah kurangnya perhatian Indonesia pada ASEAN,” ujarnya. Menurutnya, di tengah melemahnya sistem hukum internasional, organisasi regional menjadi sangat krusial untuk memperjuangkan hak negara-negara kecil dan menengah.
Terkait politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, Dewi menyoroti keseimbangan: menjalin kemitraan dagang terbesar dengan Tiongkok, namun tetap meningkatkan kerja sama militer (joint military exercise) dengan Amerika Serikat.
Ia juga menekankan bahwa negara dibentuk untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk menyengsarakan melalui aturan yang tidak adil. Di sinilah peran penting masyarakat sipil. “Peranan dari civil society adalah sebagai conscience, sebagai hati nurani yang harus menyuarakan kebenaran,” tegasnya.
Selain politik, Dewi membahas falsafah Minangkabau yang membentuk karakter bangsa. Ia menjelaskan tradisi merantau dipicu oleh sistem waris yang membuat laki-laki Minang harus memiliki modal usaha sendiri. Kepemimpinan Minang juga dikenal melalui konsep Tungku Tigo Sajarangan yang stabil karena melibatkan tiga unsur: tokoh adat (ninik mamak), tokoh agama (alim ulama), dan cendekiawan (cadiak pandai).
Keterbukaan dan kosmopolitanisme tokoh asal Minang seperti Bung Hatta, Tan Malaka, dan Sjahrir mencerminkan jati diri Indonesia yang terbentuk dari berbagai peradaban. Dewi mencontohkan namanya sendiri sebagai simbol akulturasi: "Dewi" dari Sansekerta (Hindu-Buddha), "Fortuna" dari Latin (Eropa/Romawi), dan "Anwar" dari tradisi Islam Arab.
Saksikan diskusi selengkapnya dalam program Menjadi Indonesia episode 36 pada Selasa, 20 Januari 2026 pukul 20:00 WIB di kanal YouTube NU Online.
Segmen dalam video ini:
I - Perkenalan dengan Dewi Fortuna Anwar
00:00:00 - Intro Menjadi Indonesia
00:01:11 - Keluarga dan latar belakang pendidikan
00:23:50 - Ka'bah dan Garuda: Dilema Islam dalam Politik Indonesia
II - Kebijakan Luar Negeri Indonesia dan ASEAN
00:40:32 - Indonesia di ASEAN: Kebijakan Luar Negeri dan Regionalisme
01:01:26 - ASEAN setelah berakhirnya Perang Dingin
01:13:50 - Masih relevankah peran ASEAN saat ini?
III - Kebijakan luar negeri dan diplomasi kontemporer
01:20:40 - Indonesia dan persaingan AS - China (Tiongkok)
01:31:16 - Politik luar negeri Indonesia: dari era SBY, Jokowi, hingga Prabowo
01:45:34 - Prospek diplomasi masyarakat sipil (NU - Muhammadiyah)
VI - Refleksi budaya Minangkabau dan menjadi Indonesia
01:51:01 - Kosmopolitanisme dan tradisi merantau orang Minang
01:59:59 - Sikap terbuka orang Minang: Tan Malaka, Sjahrir, dan Hatta
02:09:48 - Indonesia adalah konstruksi dari bermacam peradaban
02:16:00 - Closing
___________
NU Online - Media Resmi Nahdlatul Ulama
Super App | Website | Tiktok | X | Youtube | Instagram | Facebook | Spotify
Follow Us: https://linktr.ee/NUOnline
#nuonline #menjadiindonesia #dewifortunaanwar #ASEAN #politik #politikluarnegeri #minang #minangkabau #podcast #wawancara #intelektual #ilmu #as #usa #trump #tiongkok #china #geopolitik #asia #ilmuwan #perempuan #hubunganinternasional #indonesia #trending #fyp
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: