Muhammad Wildanul Munir, dari Santri Gontor hingga Mendirikan Pesantren Modern di Palangka Raya
Автор: Tribun Timur
Загружено: 2026-03-17
Просмотров: 64
Описание:
#tribuntimur #tribunviral #kiai #ramadan #puasa #viral #ngabuburit #cerita
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Di tengah derasnya arus digital yang memengaruhi generasi muda, Muhammad Wildanul Munir melihat pesantren sebagai benteng akidah dan akhlak umat.
Jalan hidup sebagai pendidik dan pendakwah dirasa sebagai panggilan hati oleh Munir sejak usia muda. Keyakinan itulah yang mendorongnya mengembangkan pendidikan berbasis pesantren modern Al Mujahidul Amin di Palangka Raya.
Munir mengaku, menemukan kebahagiaan tersendiri saat melihat anak-anak belajar, berprestasi, hingga mampu menjalankan ibadah dengan baik.
Meski lahir di Palangka Raya, keluarga Munir berasal dari Jawa. Saat kecil, ia sempat kembali ke Pulau Jawa karena orang tua menilai pendidikan agama di daerah tersebut lebih memadai pada masa itu.
Ia kemudian diasuh oleh sang kakek yang merupakan pengasuh pesantren di Pacitan, Jawa Timur. Sejak kecil Munir dididik untuk mencintai ilmu.
"Pesan dari orang tua dan mbah, cintailah ilmu, karena kalau kita mencintai ilmu, dunia akan mengikuti kita,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Nilai-nilai yang ditanam keluarganya sejak kecil itu, membuat Munir yakin untuk memilih jalan sebagai Pendakwah dan Pendidik.
Perjalanan Munir di pesantren dimulai pada 1998 di Ar Risalah, sebelum akhirnya melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor pada 1999.
Ia menamatkan pendidikan pada 2002 dan melanjutkan masa pengabdian di almamaternya hingga sekitar 2009.
Munir sempat mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, namun karena tak diizinkan orang tua, ia merasa dunia pendidikan adalah jalan yang dikehendaki Tuhan untuknya.
“Di masa itu saya merasa, mungkin inilah jalan untuk lebih mengenal bagaimana mendidik dan mengajarkan agama yang benar,” katanya.
Namun perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat ragu karena terbentur realitas kehidupan, terutama soal tanggung jawab ekonomi sebagai kepala keluarga.
“Namanya manusia, pernah ragu. Idealisme bertabrakan dengan realita. Tapi kembali lagi ke niat dan memohon pertolongan Allah,” ungkapnya.
Pada 2010, Munir memutuskan kembali ke Palangka Raya setelah sekitar tujuh tahun mengabdi di pesantren. Keputusan itu didasari keinginan berbakti kepada orang tua yang telah menetap di kota tersebut.
Ia mengaku sejak 1998 hingga 2009 jarang bertemu orang tua karena fokus pendidikan dan pengabdian di pesantren, hanya bertemu saat liburan. Karena itu, ketika diminta pulang untuk membantu keluarga, ia langsung menerima.
“Niatnya ingin mengabdi kepada orang tua,” katanya.
Saat pertama kembali, ia belum terpikir mendirikan pesantren. Meski cita-cita memiliki lembaga pendidikan pernah tertulis dalam rencana hidupnya, konsep tempat dan nama belum tergambar jelas.
Perjalanan menuju pendirian pesantren dimulai pada 2011 setelah ia bertemu tokoh masyarakat setempat, Haji Samsuri. Keduanya memiliki visi yang sama untuk menghadirkan lembaga pendidikan Islam berkualitas di Palangka Raya dengan biaya terjangkau.
Diskusi tersebut menjadi pemantik hingga akhirnya pada September 2013 mereka mengikrarkan berdirinya Pesantren Al Mujahidul Amin, meski saat itu belum terdaftar secara administratif di Kementerian Agama.
Kegiatan awal hanya berupa pengajian anak-anak sekitar atau TPA dengan jumlah 40–70 santri per hari. Kepercayaan masyarakat menjadi modal awal berdirinya lembaga tersebut.
Menurutnya, derasnya arus informasi membuat batas antara yang hak dan batil, ibadah dan tradisi, semakin kabur sehingga peran pesantren menjadi penting.
Ke depan, Munir berharap pesantren yang dirintisnya mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat dan menjadi sarana penyebaran nilai Islam hingga generasi mendatang.
Ia menekankan bahwa tidak semua santri harus menjadi guru. Ada yang kelak menjadi pejabat, pengusaha, atau profesi lain, tetapi tetap membawa nilai dakwah dalam bidang masing-masing.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya mengembalikan kedekatan generasi muda dengan Al-Qur’an dan bahasa Arab yang menurutnya mulai terpinggirkan dalam pendidikan umum.
“Anak-anak sekarang seperti digiring menjauh dari Al-Qur’an. Itu yang ingin kami jaga melalui pendidikan pesantren,” pungkasnya.
Narasumber: K.H. Muhammad Wildanul Munir, S.Th.I
(tribun-video.com)
Program: Cerita Para Kiai
Editor Video: dharma aji yudhaningrat
Editor Video: Ahmad Faiz Faqih
(TRIBUN-TIMUR.COM)
Update info terkini via http://tribun-timur.com/
Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks
YouTube business inquiries: 081144407111
Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur
Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: