JADI GAGAH DAN MEGAH SETELAH DI REVITALISASI || BENTENG KRATON JOGJAKARTA TERDAFTAR DALAM UNESCO
Автор: DJOGJA NEWS
Загружено: 2025-05-30
Просмотров: 5383
Описание:
Revitalisasi Benteng Keraton Yogyakarta merupakan proyek besar yang bertujuan untuk mengembalikan kejayaan warisan budaya yang telah berdiri selama lebih dari dua abad. Benteng ini, yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan II, menghadapi berbagai tantangan, termasuk Geger Sepehi tahun 1812, serta intervensi modern yang mengancam keasliannya.
Latar Belakang dan Sejarah Benteng
Benteng Keraton Yogyakarta, yang dikenal sebagai Benteng Baluwerti, awalnya dibangun sebagai sistem pertahanan kerajaan. Benteng ini mengelilingi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, melindungi kediaman Sultan dan para abdi dalem dari ancaman eksternal. Struktur benteng terdiri dari bastion, plengkung (gerbang utama), dan jagang (parit pertahanan).
Pada masa lalu, jagang berfungsi sebagai penghalang alami terhadap serangan musuh. Namun, seiring perkembangan kota, sebagian besar jagang telah tertimbun dan berubah menjadi permukiman warga, terutama di sepanjang Jalan Brigjen Katamso serta di sisi selatan dan barat benteng.
Proses Revitalisasi
Revitalisasi benteng dimulai dari kawasan Plengkung Wijilan, dan saat ini telah mencapai sisi barat Plengkung Gading. Menurut Kepala Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, revitalisasi bukan sekadar restorasi fisik tetapi juga pelestarian nilai sejarah, simbol identitas budaya Yogyakarta, dan penguatan Sumbu Filosofi.
Proyek ini bertujuan untuk mengembalikan bentuk asli benteng, menyusul pengakuan UNESCO terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia pada 18 September 2023. Sebagai tindak lanjut dari penetapan tersebut, UNESCO memberikan tujuh rekomendasi penting, salah satunya adalah pemulihan struktur Benteng Baluwerti ke bentuk semula.
Revitalisasi dilakukan secara bertahap, mencakup sisi timur, selatan, barat, hingga utara. Kini, bagian timur sudah memasuki tahap finishing, sedangkan sisi selatan mulai tersambung dengan Pojok Beteng Kulon di barat daya, lengkap dengan proses plester dan penambahan penopang struktur.
Pendanaan dan Partisipasi Masyarakat
Pendanaan revitalisasi berasal dari Dana Keistimewaan (Danais) yang disalurkan oleh pemerintah pusat kepada Pemda DIY, kemudian diberikan sebagai hibah kepada Keraton Yogyakarta untuk membiayai proyek-proyek restorasi. Warga terdampak diberikan kompensasi berupa bebungah, dengan nominal berkisar antara Rp 80 juta hingga Rp 250 juta, bergantung pada luas dan jenis bangunan yang mereka tempati.
Selain perbaikan struktur benteng, proyek ini turut menata lingkungan sekitarnya, khususnya permukiman warga di sekitar Pojok Beteng Lor Wetan. Revitalisasi juga mengakomodasi relokasi sukarela, sesuai dengan rekomendasi UNESCO dalam penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia.
Masyarakat memiliki peran penting dalam revitalisasi, baik sebagai penerima manfaat maupun sebagai penjaga keaslian warisan budaya ini. Kolaborasi antara pemerintah, Keraton Yogyakarta, dan warga menjadi faktor utama dalam memastikan proyek berjalan dengan baik tanpa menghilangkan nilai historis benteng.
Harapan dan Masa Depan Benteng
Dengan upaya ini, diharapkan Benteng Keraton Yogyakarta dapat kembali menjadi simbol kejayaan serta identitas budaya Yogyakarta, sekaligus memperkuat posisinya dalam sejarah dan peradaban Indonesia. Revitalisasi ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki aspek fisik benteng tetapi juga untuk mengembalikan nilai historis dan budaya yang melekat padanya
Sumbu Filosofi Yogyakarta beserta penanda bersejarahnya kini resmi menyandang status sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Penyerahan sertifikat inskripsi oleh UNESCO kepada Indonesia menjadi tanda pengukuhan status penting ini.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid, menjelaskan bahwa pengusulan Sumbu Filosofi Yogyakarta telah dimulai sejak tahun 2014. Proses ini melibatkan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Atribut Penanda Bersejarah Sumbu Filosofi Yogyakarta meliputi:
1. Panggung Krapyak
2. Sumbu Kosmologis Selatan: Jalan Gebayanan, serta Dinding,Gerbang, dan Kubu Pertahananseperti Plengkung Nirbaya,
Plengkung Jagabaya, Plengkung Jagasura, dan Plengkung Tarunasura.
3. Pojok Benteng: Jokteng Kulon,Jokteng Lor, dan Jokteng Wetan.Kompleks Keraton NgayogyakartaHadiningrat dan alun-alun (selatan dan utara).
4. Kompleks Tamansari.
5. Kompleks Masjid Gede.
6. Sumbu Kosmologis Utara: Jalan Pangurakan, Jalan Margomulyo, Jalan Malioboro, danJalan Margoutomo.
7. Pasar Beringharjo.
8. Kompleks Kepatihan dan
9. Monumen Tugu Yogyakarta.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: