Ini yang Terjadi di Istana Bogor Saat Bung Karno Bertemu 3 Jenderal TNI AD
Автор: Intel Melayu
Загружено: 2023-01-03
Просмотров: 216113
Описание:
Ini yang Terjadi di Istana Bogor Saat Bung Karno Bertemu 3 Jenderal TNI AD
Pada 11 Maret 1966 siang menjelang sore tiga jenderal angkatan darat menghadap Bung Karno. Mereka adalah Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M Jusuf dan Amir Machmud. Mengutip buku, "Amir Machmud Saksi Supersemar yang Menjadi Menteri Presiden Soeharto," yang disusun Pusat Data dan Analisis Tempo," Brigjen Basuki Rachmat tak lain adalah Menteri Veteran. Sementara M Jusuf, jenderal angkatan darat lainnya ketika itu tengah menjabat Menteri Perindustrian Ringan. Yang terakhir, Brigjen Amirmachmud sedang memegang posisi Pangdam Jaya. Ketiganya datang menghadap Bung Karno setelah insiden di sidang kabinet yang dibatalkan di tengah jalan karena adanya pasukan RPKAD tanpa pengenal yang mengepung Istana Negara berbaur dengan para demonstran.
Keberadaan pasukan RPKAD tanpa pengenal itu yang membuat Bung Karno menyudahi rapat secara mendadak untuk kemudian dengan tergesa terbang ke Istana Bogor dengan menggunakan helikopter.
Pusat Data dan Analisis Tempo dalam buku,"Amir Machmud Saksi Supersemar yang Menjadi Menteri Presiden Soeharto," mencatat sekitar pukul 2 siang lebih, tiga jenderal angkatan darat itu tiba Istana Bogor. Setelah tiba di Istana Bogor, tiga jenderal itu langsung bergegas menuju paviliun tempat pengawal. Di sana tiga jenderal itu disambut Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa.
Begitu bertemu Sabur, Basuki Rachmat yang langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Bur, kami datang ingin ketemu Bapak,” kata Basuki Rachmat kepada Sabur.
Sabur pun menjawab, bahwa saat ini Bung Karno tengah istirahat di kamarnya. Mendengar jawaban Sabur, Basuki Rachmat kembali berkata. Ia dan dua rekannya, akan menunggu Bung Karno.
"Kalau begitu, akan kami tunggu,” kata Basuki Rahmat setelah dapat penjelasan dari Sabur.
Oleh Sabur, ketiga jenderal Angkatan Darat itu lantas di bawa ke ruang tamu Istana. Sampai kemudian Bung Karno muncul. Presiden Indonesia pertama itu datang menemui tiga tamunya.
Setelah tiga jenderal duduk di hadapannya, dengan raut muka keruh Bung Karno membuka percakapan. Ia berkata dengan nada emosi menanyakan maksud kedatangan tiga jenderal tersebut.
"Mau apa kalian ke sini?" Bung Karno bertanya dengan suara keras penuh amarah.
Basuki Rahmat yang kemudian menjawab. Dengan suara pelan teratur, mantan Pangdam Brawijaya itu mengutarakan maksud kedatangannya menemui Bung Karno. "Kami sengaja datang untuk menemui Bapak untuk menunjukkan kami tidak meninggalkan Bapak. Kami tidak ingin Bapak merasa telah ditinggalkan oleh ABRI, oleh Angkatan Darat. Kami menyesalkan terjadinya peristiwa pagi tadi. Tapi kami harap Bapak Presiden tidak terpengaruh oleh kejadian itu." Begitu yang diucapkan Basuki Rahmat.
Mendengar itu, Bung Karno kembali berkata dengan marah. "Apa? Kau bilang aku jangan terpengaruh? Aku tidak usah gelisah? Kau mengatakan Angkatan Darat tidak meninggalkan aku? Kalian sendiri tahu, Angkatan Darat ikut demonstrasi. Ikut menjatuhkan saya. Kalian susupkan anggota RPKAD dan Kostrad di antara pemuda dan mahasiswa itu. Untuk apa kalau bukan untuk menyerang saya?”
Raut muka Bung Karno memerah menahan emosi. Lalu Bung Karno memarahi Amir Machmud. Kata Bung Karno, Amir Machmud selalu menyatakan Jakarta aman. Tapi faktanya lain, sampai ada pasukan liar menyusup di tengah demonstran. Basuki Rachmat dan Jusuf juga kena tegur.
"Kalian juga tidak berbuat apa-apa" kata Bung Karno seraya menuduh ketiga jenderal itu berpura-pura, dan sebenarnya ingin agar dirinya jatuh.
Mendengar kemarahan dan tuduhan Bung Karno, Basuki Rachmat yang menjawab pertama kali. Ia membantah jika Angkatan Darat telah meninggalkan Bung Karno, apalagi ingin menjatuhkannya. Tidak ada niat dari Angkatan Darat melakukan itu.
"Itu tidak benar Pak. Tidak ada niat meninggalkan Bapak. Apalagi menjatuhkan Bapak. Kalau ada niat seperti itu, tentu kami tidak datang kemari," kata Basuki Rachmat.
Bung Karno terdiam mendengar perkataan Amir Machmud. Setelah itu, Bung Karno menanyakan, apa jalan keluar yang diperlukan mengatasi kemelut yang terjadi. Kali ini Jenderal Jusuf yang angkat bicara. Ia menyarankan agar Bung Karno memerintahkan Jenderal Soeharto untuk mengatasi keadaan. Saran M Jusuf dikuatkan Amir Machmud.
"Ya Pak. Tadi Pak Harto juga berpesan sanggup mengatasi keadaan, kalau Bapak Presiden memberikan kepercayaan kepadanya." Begitu kata Amir Machmud.
Mendengar itu, Bung Karno langsung menyela. "Kepercayaan? Kepercayaan apa lagi yang harus kuberikan kepadanya? Jenderal Soeharto sudah kuangkat menjadi Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Tapi coba, sampai sekarang tidak aman dan tidak tertib.
Setelah itu terdengar Amir Machmud yang bicara. "Mungkin diperlukan kepercayaan lebih lagi Pak."
Dengan raut muka bingung, Bung Karno menyahut. "Kepercayaan lebih bagaimana? Apa maksudmu?"
"Semacam surat perintah misalnya," jawab Amir Machmud dengan cepat.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: