Vliegveld Kalidjati Cikal Bakal Lanud Suryadarma
Автор: Perisai Langit
Загружено: 2020-09-04
Просмотров: 2276
Описание:
LINTASAN SEJARAH PANGKALAN TNI AU SURYADARMA
1. Pangkalan Udara Kalijati (Vliegveld Kalidjati) merupakan pangkalan udara militer peninggalan Belanda yang dibangun di Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang sebagai cikal bakal berdirinya Lanud Suryadarma. Pada tanggal 30 Mei 1914 Pemerintah Belanda membentuk Bagian Percobaan di bidang Penerbangan tentara Kerajaan Hindia Belanda (Proef Vlieg Afdeling/PVA) di Batavia yang saat ini bernama Jakarta. Namun PVA belum memiliki pesawat satupun. Akhirnya pada tanggal 6 November 1915 dilakukan penerbangan militer pertama oleh PVA di Hindia Belanda menggunakan pesawat amfibi Glenn Martin bermesin Hall scott 6 silinder yang dibeli dari Amerika. Pesawat tersebut diterbangkan oleh Letnan Ter Poorten didampingi mekaniknya yang bernama Steven terbang di atas Jakarta dan mendarat di perairan Tanjung Priok.
2. Pada tahun 1916 Letnan Jendral Walter Robert De Greve sebagai Komandan KNIL (1916-1919) mencari tempat yang luas di dekat Pamanukan dan Ciasem dan dipilihlah Kalijati untuk dijadikan bandara (Vliedveld Kalijati). Pada bulan Januari 1916 pesawat Glenn Martin yang sudah dimodifikasi roda pendaratnya diangkut menggunakan kereta api dan diangkut sejauh 4 Km melalui daerah yang tergenang air di Kalijati. Pada tanggal 8 Februari 1916 dilakukan penerbangan perdana di atas langit Kalijati oleh pilot Ter Poorten sebanyak 4 kali selama 53 menit. Selanjutnya pada 14 Februari 1916 terjadi kecelakaan pesawat yang menewaskan Letjend Michielsen dan pilot Letnan Ter Poorten luka berat. Kejadian ini menyebabkan kesiapan pesawat menurun dan tidak ada penerbangan sambil menunggu datangnya pesawat baru.
3. Pada tahun 1917 di Kalijati dibuka sekolah penerbangan yang pertama dengan mendatangkan 8 pesawat pengintai dan 4 pesawat latih baru. Keempat Pesawat Latih tersebut digunakan untuk kegiatan pendidikan bagi calon pilot/penerbang, sehingga pembangunan sarana prasarana pendidikan pilot di Pangkalan Udara Kalijati mulai dikerjakan dengan intensif dan hingga saat ini bangunan-bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Hanggar A, yang saat ini digunakan sebagai hanggar Satuan Udara Pertanian. Hanggar B yang saat ini digunakan sebagai Hanggar Skadron Udara 7, Hanggar C untuk Museum Amerta Dirgantara Mandala dan Pusat Pendidikan Terbang Layang, Hanggar D untuk Skadron Pendidikan
2
303, sedangkan bekas Gedung Sekolah Penerbang Belanda saat ini digunakan sebagai Markas Wingdiktekkal, juga kompleks-kompleks perumahan dinas salah satunya untuk Museum Rumah Sejarah Kalijati dan bangunan lainnya yang tersebar di area Lanud Suryadarma.
4. Sejak adanya sekolah penerbangan tersebut, tercatat bahwa intensitas penerbangan di Kalijati menjadi 100 kali lebih banyak daripada sebelumnya. Kapten Engelbert Van Bevervoorde dan Hilgers tercatat sebagai instruktur yang juga menerbangkan pesawat dari Koneingsplein (Lapangan Banteng) ke kalijati untuk menangani Sekolah penerbang. Selanjutnya pada 28 Juli 1917 Kalijati telah melahirkan penerbang pertama yang memperoleh brevet atas nama letnan Leendertz dan adanya penambahan 12 pesawat Avro dan 12 pesawat De havilland ke Kalijati.
5. Pada tahun 1918 terjadi perubahan organisasi dari bagian percobaan penerbangan menjadi Bagian Penerbangan yang terpusat di Kalijati. Kegiatan pelatihan penerbangan berkembang dengan pesat dan pada Februari 1918 Sekolah Navigator juga mulai dibuka di Kalijati. Pada tahun 1919 telah terjadi penurunan jumlah penerbangan karena adanya beberapa kecelakaan pesawat yang menewaskan beberapa instruktur, seperti Kapten Engelbert Van Bevervoorde dan Letnan Mosselman. Jumlah pesawat juga mulai menurun, material yang masih ada dipindahkan ke pangkalan Sukamiskin. November 1919 Kalijati ditinjau oleh Yang Mulia Susuhunan dari Surakarta dan Mayor Jendral Spruyt yang ikut terbang dengan pesawat De Hevilland dari Lapangan Banteng Batavia. Kunjungan ini mendorong pengembangan pembangunan sarana Hanggar dan fasilitas penerbangan baru. Pada 6 Desember 1919 juga mendarat pilot Ross Smith dari Australia yang melakukan penerbangan lintas dunia dengan pesawat Vickers Vimy.
6. Setelah berjalan 11 tahun, tepatnya pada tahun 1932, Sekolah penerbangan Hindia Belanda di Kalijati mulai menerima siswa pribumi, namun dengan persyaratan yang sangat ketat dan berat. Keadaan tersebut dialami oleh Letnan Suryadi Suryadarma saat harus menjalani tiga kali tes untuk diterima sebagai siswa navigator pada 1937. Sebelumnya, beliau telah menjalani pendidikan selama enam bulan di Akademi Militer Breda di Belanda, selanjutnya menjadi Komandan Peleton di Magelang. Atas saran dari rekan-rekannya, beliau melanjutkan sekolah navigator dan akhirnya lulus pada tahun 1939. Selanjutnya beliau menempuh pendidikan instruktur yang akhirnya mengantarkannya menjadi instruktur di Sekolah Navigator. Beberapa warga pribumi lainnya yang lulus brevet penerbang tingkat atas adalah Adi Sutjipto dan Sambujo Hurip.
dst
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: