Harta Takhta Legenda (feat. Darkness Grey Sage & Empress of The Void)
Автор: Mute Bard
Загружено: 2026-01-07
Просмотров: 422
Описание:
Grey Sage kecil ditemukan saat remaja dalam kondisi sekarat di balik puing Kerajaan Semi yang telah runtuh, masih mengenakan zirah emas. Seorang penyihir pengelana membawanya ke serikat sihir, ia sempat menolak, karena sejak kecil ia bermimpi mengangkat pedang dan perisai warisan leluhur. Namun ketika ia menyadari bahwa warisan itu telah hilang bersama runtuhnya Kerajaan semi, ia akhirnya menempuh jalan sihir sebagai satu-satunya takdir yang tersisa.
Tak lama, ia membaca sejarah yang baru saja ditulis dan membaca tulisan yang kejam tentang Kerajaan musim semi. dan saat itulah ia sadar dunia sedang memutarbalikkan kebenaran, kerajaan semi dituduh berkhianat oleh kerajaan panas, gugur, dan dingin.
Bertahun kemudian, kabar tentang Wyvern of the Emptiness muncul, para terkuat dipanggil oleh raja dan disatukan dalam satu kelompok. Veldrick si Pedang Surga, Alicia sang Penyembuh Suci, Rex sang Langkah Kilat, dan seorang penyihir abu-abu, Grey Sage. Grey Sage tidak bergabung karena sumpah, melainkan rasa ingin tahu. Dunia baginya bukanlah medan kebajikan atau kejahatan, melainkan teka-teki yang belum selesai.
Akhirnya, mereka berangkat, Di atas jurang langit yang pucat, monster itu turun, tidak meraung, hanya menghadirkan hening yang menelan gema. Ketika sayapnya mengepak, keberanian tampak kecil seperti lilin di tengah laut.
Pertarungan sangat singkat, lebih mirip penghapusan. Satu per satu dari mereka terhisap, bukan jatuh, melainkan dicabut dari definisi “ada”. Grey Sage terseret terakhir.
Di dalam kehampaan itu tidak ada atas, bawah, jarak, dekat, jauh, sebelum, setelah. Rasa takut akan mati berubah menjadi rasa takut karena tidak bisa mati, lalu perlahan keduanya kehilangan bentuk hingga orang yang jatuh ke sana pun tidak bisa lagi menyebut dirinya “orang.” Namun Grey Sage tidak memperjuangkan kesadarannya juga tidak melepaskannya. ia hanya duduk, atau melakukan sesuatu yang paling mendekati “duduk” di tempat yang tidak memiliki arah, bersandar pada kehampaan seolah-olah ia sedang beristirahat di dinding kamar yang dingin, lalu menatap lurus ke hadapan yang tidak didefinisikan oleh apa pun, dengan ekspresi seseorang yang sedang menunggu tuan rumah keluar.
Kehampaan itu bergelombang, sesuatu mulai terwujud. Sosok perempuan terbentuk dengan indah yang tak mengikuti anatomi manusia sepenuhnya, seolah-olah tubuhnya adalah interpretasi dari konsep bentuk, rambutnya seperti kabut bintang, panjang dan mengalir, sementara matanya bersinar seperti sisa cahaya bintang yang telah mati jutaan tahun.
“siapa sangka bahwa penghuni kehampaan adalah makhluk cantik.“ buka Grey Sage, sembari tersenyum.
“Banyak yang jatuh ke sini,” demikian getarannya, lembut dan tak terbantah, “namun tak satu pun yang menatap sepertimu.” Balasnya.
Grey Sage menjawab dengan ketenangan, seperti seseorang yang akhirnya menemukan hal yang sudah lama ingin ditemui. Ia berkata bahwa kebanyakan manusia takut pada ketiadaan bukan karena ketiadaan itu menyakitkan, tetapi karena di dalamnya tidak ada cermin yang bisa mengembalikan gambar diri mereka, sementara ia justru penasaran pada penghuni hampa itu sendiri, pada siapakah yang tinggal di tempat asing yang indah ini.
Empress of the Void melangkah mendekatinya tanpa jejak, tanpa permukaan untuk dijejak, dan menatapnya. Ia menyebut bahwa manusia lain biasanya berdoa atau memohon ketika sampai di tempat ini, memanggil dewa-dewa, memanggil ibu mereka, memanggil siapa saja, sementara laki-laki abu-abu ini justru mengajaknya bicara seperti dua orang yang kebetulan duduk berdampingan di bangku taman setelah hujan. dalam perspektif manusia, tentunya.
Grey Sage hanya tersenyum tipis dan berkata bahwa ia tidak melihatnya sebagai kematian, melainkan mungkin sebagai pintu, mungkin sebagai penutup buku atau mungkin sebagai halaman kosong yang menunggu ditulisi ulang, dan jika Empress ingin menghabisinya maka silakan, tetapi jika tidak, maka mereka bisa berbicara karena tidak ada satu pun di alam manapun yang mengatakan bahwa kehampaan harus selalu membosankan.
Untuk pertama kalinya, kehampaan penasaran, Empress of the Void menatapnya lebih dalam, lalu melakukan sesuatu yang hampir menyerupai keputusan yang salah. ia tertawa kecil, suara yang seperti bintang padam jatuh ke laut yang tidak eksis, dan menerima ajakan itu tanpa secara formal mengatakannya. karena rasa bosan pada peran yang telah lama didefinisikan oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
Ketika Grey Sage kembali ke dunia, ia tidak kembali sendirian, Ia kembali dengan tatapan Empress of the Void di punggungnya, dan dengan bisikannya di pinggir pikirannya. Mereka tidak saling menguasai, mereka saling memanfaatkan. Empress ingin melihat bagaimana dunia bergerak bila disentuh oleh kekuatannya yang tak seharusnya muncul di permukaan. Grey Sage ingin melihat sampai mana skenario dunia bisa dipermainkan sebelum diketahui oleh beberapa dewa penulis dunia.
Ilustrasi: Prohibition/Public Domain Dataset @civitai.com/models/68764/prohibition
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: