RUKO: Menteri koperasi dan Dirut Agrias pangan di Bombardir pertanyaan anggota DPR, Bisa Menjawab ?
Автор: TV KOPERASI
Загружено: 2025-11-19
Просмотров: 17894
Описание:
Gagasan besar tentang Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kembali menguat ketika pemerintah menempatkan koperasi sebagai ujung tombak stabilitas harga pangan. Optimisme untuk mewujudkan harga yang lebih terjangkau dan rantai distribusi yang lebih pendek memang sangat besar. Namun, penting juga untuk melihat sisi lain: bagaimana jika tujuan itu gagal dicapai? Pertanyaan inilah yang membuat arah pembicaraan menjadi semakin relevan—bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh jargon, melainkan hasil nyata yang menyentuh dapur masyarakat.
KODE Indonesia menegaskan bahwa program Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan ekonomi sosial yang lebih merata adalah tujuan mulia yang layak diperjuangkan bersama. Rakyat berhak menikmati hasil bumi secara lebih adil, baik petani, nelayan, pembudidaya ikan, maupun konsumen kecil. Tetapi kunci utamanya terletak pada kesediaan kita membenahi hal yang paling fundamental: mata rantai yang terlalu panjang.
Selama ini, petani dan nelayan tidak menikmati harga pasar secara layak karena distribusi dikuasai banyak perantara. Di sisi lain, masyarakat kecil juga tidak menikmati harga murah—justru mereka membayar lebih mahal. Koperasi Desa Merah Putih hadir bukan sekadar sebagai ikon atau proyek fisik, tetapi sebagai jembatan yang memotong rantai antar produsen dan konsumen. Jika petani bisa menjual dengan harga baik dan konsumen membeli dengan harga terjangkau, maka di situlah koperasi bekerja secara ideal.
Namun, tantangannya tidak kecil. Ketika biaya pangan terus merangkak naik, harga sayur dan kebutuhan harian semakin tidak stabil, dan jumlah penerima manfaat program pangan gratis mencapai 40 juta kepala keluarga (bahkan berpotensi naik hingga 92,9 juta), tekanan terhadap pasokan akan sangat besar. Ini berarti koperasi tidak bisa hanya mengandalkan model perdagangan, tetapi harus membangun kapasitas produksi.
KODE Indonesia menekankan bahwa koperasi perlu fokus pada sektor riil: membangun kandang ayam, memperkuat produksi telur dan daging, mengembangkan pembudidayaan ikan, meningkatkan hasil padi, hingga memperkuat komoditas lain yang dibutuhkan masyarakat. Sebab kebutuhan masyarakat dan permintaan dari program MPBG (Makan Bergizi Gratis) akan menggerakkan belanja lebih dari Rp300 triliun per tahun. Pasokan yang kuat adalah syarat mutlak.
Di sinilah evaluasi penting harus dilakukan. Jika dalam suatu desa tersedia anggaran Rp3 miliar, tetapi Rp1,6 miliar hingga Rp2,5 miliar hanya habis untuk bangunan fisik, maka koperasi akan terbebani biaya komersial yang tidak produktif. Beban pengembalian bisa besar, sementara manfaat riil bagi masyarakat mengecil. Maka desain harus dihitung ulang—fokus pada produksi, bukan bangunan megah.
Koperasi Desa Merah Putih harus menjadi mesin ekonomi rakyat, bukan sekadar proyek. Jika koperasi benar-benar mampu memotong rantai, menekan biaya, memperkuat produksi, dan menyerap hasil petani–nelayan, maka barulah ia menjadi instrumen strategis pembangunan yang sesungguhnya.
#KoperasiDesaMerahPutih #KODEIndonesia
#EkonomiRakyat #StabilisasiHargaPangan
#RantaiDistribusiPendek #PetaniBerdaulat
#NelayanBerdaya #ProduksiPangan
#EkonomiSosialPrabowo #PanganTerjangkau
#MakanBergiziGratis #KoperasiMasaDepan
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: