Pembukaan Pameran “Smarabawana”
Автор: Kraton Jogja
Загружено: 2026-03-07
Просмотров: 4749
Описание:
Pameran Smarabawana
Menerjemahkan hubungan tata ruang dan wilayah di Kasultanan Yogyakarta tidak terbatas pada budaya material yang melekat pada kawasan, bangunan, maupun benda cagar budaya. Akan tetapi relasi tersebut menjelma dalam manifestasi sakral non-material, dengan muatan filosofi mendalam. Pada pameran awal tahun 2026, Keraton Yogyakarta mengangkat tema arsitektur, tata ruang, dan wilayah Kasultanan Yogyakarta dengan berorientasi pada pembahasan pada aspek arsitektur material hingga bentang alam Yogyakarta yang dibangun sejak Perjanjian Giyanti, 1755 oleh Pangeran Mangkubumi. Aspek bentang alam kerap dihubungkan dengan kawasan yang kompleks dengan sosial-politik, sedangkan dalam tataran filosofi, bentang alam Yogyakarta menjadi ruang penghayatan atas simbol-simbol perjalanan hidup dan dimaknai sebagai konsep sangkan paraning dumadi. Pada filosofi tersebut, manusia Jawa memegang peran penting dalam mewujudkan relasi kuasa atas dirinya dan hubungannya dengan alam atau hamemayu hayuning bawana. Setiap filosofi tersebut kemudian diturunkan baik dalam pembangunan fisik maupun pembangunan mental manusia Jawa, seperti paham tentang sedulur papat lima pancer, nawa dewata yang melindungi delapan arah mata angin dengan Bethara Guru (Shiva) berada di tengah sebagai fungsi penyeimbang.
Sinopsis Pertunjukan Buron Wana
Dalam kaitannya dengan tata ruang Kasultanan Yogyakarta, buron wana menjadi hewan-hewan yang hadir di kebun hewan milik raja, serta hutan-hutan yang terhampar di sekeliling kerajaan. Pada masa pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Panggung Krapyak yang dianggap sebagai tempat perburuan rusa sekaligus tempat para raja beristirahat ketika berburu. Beberapa sumber menyebutkan Panggung Krapyak dengan istilah monumen pemanahan. Dalam Babad Ngayogyakarta, disebutkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono I ditemani oleh kesatuan prajurit Jager saat berburu di kawasan Krapyak.
Pada penampilan peragaan busana Buron Wana dalam pembukaan pameran kali ini, Kawedhanan Kridhamardawa menghadirkan berbagai busana buron dan iringan lagu oleh Yogyakarta Royal Choir, antara lain:
1. Gajah/Liman diiringi lagu Bapak Pocung aransemen Steven Immanuel Angelo
2. Landak diiringi Lelalgon Landhak Laras Pelog Pathet Nem ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Steven Petra Anugerah
3. Bulus diiringi Lelagon Bulus Laras Slendro Pathet Sanga ciptaan ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Rafeel juniar Krismanda
4. Naga diiringi Lelagon Naga Laras Pelog Pathet Barang ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Athitya Diah Natalia Monica
5. Yuyu diiringi oleh lagu Yuyu Kangkang ciptaan Favourite’s Group, diaransemen oleh Steven Petra Anugerah
6. Kluyu diiringi Lelagon Kluyu Laras Pelog Pathet Sanga ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Lukas Gunawan Arga Rakasiwi
7. Kidang diiringi lagu Kidang Talun ciptaan RC Hardjasoebrata, diaransemen oleh Rafeel Juniar Krismanda
8. Turangga/Kuda diiringi lagu Jaranan aransemen Steven Petra Anugerah
9. Cohung diiringi lagu Cohung aransemen Steven Immanuel Angelo
10. Macan diiringi lagu Macan Ucul ciptaan Ki Narto Sabdo, diaransemen oleh Christo Carlo Manuel Gultom
11. Celeng diiringi lagu Dhempo Talu Tameng aransemen Fransisca Augmensia Puteri Gratia
12. Peksi/Burung diiringi Lelagon Sebet ciptaan Ki Tjokrowarsito, diaransemen oleh Rafeel Juniar Krismanda
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: