Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah yang menyesatkan UMAT
Автор: Al Ikhlas studio official
Загружено: 2022-02-26
Просмотров: 376
Описание:
Banyak bentuk penyimpangan dari prinsip dakwah. Ada yang jelas, ada pula yang tersembunyi dan samar-samar. Penyimpangan dapat berbentuk penyimpangan tujuan (ghayah), sasaran (ahdaf), sekitar jamaah dan komitmen (iltizam), pemahaman (fahm), sarana (wasilah), langkah (khiththah), dan lain-lainnya.
1. Penyimpangan Tujuan (Ghayah)
Penyimpangan tujuan termasuk salah satu penyelewengan paling berbahaya yang harus dihindari. Tujuan dakwah, semata-mata karena Allah. Dakwah yang bertujuan selain Allah, atau menyertai tujuan-tujuan lain, seperti tujuan dalam bentuk kepentingan pribadi selain tujuan kepada Allah, adalah suatu penyimpangan.
Setiap penyimpangan tujuan, meskipun ringan atau kecil, tetap akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Allah tidak menghendaki sekutu dan tidak menerima amal, kecuali yang ikhlas karena-Nya. Karena itu, mengikhlaskan niat karena Allah dan membersihkan dari segala noda, menjadi persoalan mendasar dalam jalan dakwah ini. Dakwah memerlukan pelurusan niat dan pemantapan yang terus menerus. Jiwa manusia sering dipengaruhi hawa nafsu. Syaithan dapat menyusup ke aliran darah manusia, berusaha merusak ibadah, jihad, juga membatalkan amal dan pahala seseorang.
2. Penyimpangan dari Sasaran Utama (Ahdaf)
Penyimpangan dari sasaran utama kepada sasaran yang sifatnya juz’iyah (sektoral), atau kepada tujuan-tujuan yang sama sekali menyimpang dari sasaran utama, akibatnya hanya menghabiskan usaha dan potensi yang tidak sedikit dengan sia-sia, juga meruntuhkan amal Islami yang benar dan hasil yang diharapkan.
“Tugas global kita, membendung arus kebudayaan materi. Menghancurkan budaya konsumerisme dan peradaban bejat yang menghancurkan umat Islam. Budaya materi itu menjauhkan kita dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan petunjuk Al-Quran. Menghalangi dunia dari pancaran hidayah-Nya, dan menunda kemajuan Islam ratusan tahun. Seluruh peradaban dan kebudayaan tersebut harus dilenyapkan dari muka bumi kita. Sehingga, umat Islam selamat dari fitnahnya. Kita tidak akan berhenti sampai di sini, kita akan terus mengejar sampai ke tempat asalnya. Terus menyerbu ke kandangnya (Barat). Sehingga, seluruh dunia menyambut seruan Nabi Muhammad SAW dan dunia terlindung dengan ajaran-ajaran Al-Quran serta Islam yang teduh menaungi seisi bumi.
Pada saat itulah tujuan kaum Muslimin tercapai:
“Sehingga tidak ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya milik Allah”. (QS. Al-Anfal: 39)
Penyimpangan-penyimpangan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, antara lain:
1. PEMISAHAN SASARAN. Ini dapat berupa pembatasan dakwah hanya pada masalah-masalah ibadah mahdhah, dzikir, ilmu pengetahuan, dakwah kepada Allah, amar ma’ruf, nahi mungkar dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Tetapi meninggalkan persoalan tasyri’ (perundang-undangan), pemerintahan, jihad, dst.
Pemisahan sasaran pada hakikatnya merupakan distorsi dan pendangkalan, serta pelaksanaan yang keliru terhadap ajaran Islam.
Ada sebagian jamaah memilih sasaran parsial (tidak utuh). Pilihan mereka itu kita serahkan kepada Allah. Tetapi, yang perlu kita perhatikan ialah mereka yang sedang meniti jalan dakwah dengan sasaran yang telah kami jelaskan di atas kemudian mereka melakukan penyimpangan dengan mengambil jalan pemisahan sasaran.
Motivasi tindakannya itu biasanya untuk keselamatan dirinya dan menghindari penyiksaan para penguasa zhalim. Ini bukti bahwa keimanannya lemah. Padahal, orang yang bersangkutan tidak akan terbebas dari mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatannya itu kelak. Di sisi lain, karena ia berada dalam naungan sistem jahiliyah yang tidak melaksanakan syariat Allah, maka pelaksanaan ‘ibadah, dakwah, dan pengetahuannya tidak dapat dilaksanakan secara murni dan utuh. Sementara itu, umat Islam akan terus terhina dan terjajah. Mereka dan para generasi mudanya dipaksa menerima ideologi sesat dan tradisi jahiliyah yang rusak. Sedang, ilmu yang mereka miliki tidak membawa kemanfaatan.
Perasaan tidak mampu menghadapi kekuatan musuh atau ketidak-mungkinan mewujudkan ahdaf kita secara total, sering dijadikan alasan untuk melakukan pemisahan (parsialisasi) sasaran. Padahal ini juga merupakan kelemahan iman dan kesalahan pemahaman. Orang beriman harus menggantungkan persoalannya kepada Allah semata.
Ataupun penyimpangan dengan pandangan bahwa mewujudkan ahdaf bukan kewajiban setiap muslim dan muslimah atau dianggap fardhu kifayah. Sikap seperti ini harus segera diluruskan dan perlu dijelaskan kewajiban ini fardhu ‘ain.
2. PEMBATASAN NEGARA. Penyimpangan ahdaf lainnya, bila penegakkan daulah yang berasaskan kepada Islam dibatasi pada salah satu negara saja. Tanpa memikirkan dan berusaha bekerja sama menegakkannya sedunia.
Sikap itu di samping menyalahi kesepakatan, juga bertentangan dengan universalitas dakwah dan persatuan Islam.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: