Sejarah Masjid Agung Manonjaya, Saksi Biksu Perkembangan Islam Sukapura Tasikmalaya
Автор: Dzafirah
Загружено: 2023-09-05
Просмотров: 1300
Описание:
MESJID TERTUA DI TASIKMALAYA, PERPADUAN ARSITEKTUR SUNDA JAWA DAN EROPA
Assalamualaikum wr.wb. Setelah kita menelusuri jejak sykh Abdul Muhyi, waktunya kita ke daerah Manonjaya. Yang juga tidak kalah banyak sejarahnya. Eit, tapi yuk makan siang dulu.
di depan masjid agung manonjaya ini banyak pedangan yang berjejer di depan.
ternyata, sudah sejak dulu
Daerah di sekitar Masjid Agung Manonjaya dijadikan pusat perdagangan dan perekonomian, sebagai anjang transasi jual beli para pedagang asal Jawa Barat dengan para pedagang asal Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sampai kini masjid tersebut masih berfungsi sebagai tempat peristirahatan para pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang hendak berziarah ke Petilasan Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan.
Tasikmalaya merupakan sebuah daerah di Priangan Timur. Sejarah mencatat, Islam sudah menyebar di wilayah tersebut kira-kira sejak abad ketujuh.
Kini, Manonjaya adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Walaupun tidak lagi berstatus ibu kota kabupaten, seperti halnya Singaparna, jejak-jejak pusat pemerintahan masih bisa dijumpai di sana. Salah satunya ialah Masjid Agung Manonjaya.
Tempat ibadah itu dibangun pada tahun 1837. Namun, beberapa sumber menyebutkan tahun pembangunannya ialah 1834. Artinya, kompleks tersebut kira-kira sudah berusia lebih dari 180 tahun. Sejak tahun 1999, masjid tertua di seluruh Tasikmalaya itu sudah berstatus bangunan cagar budaya nasional yang wajib dilestarikan.
Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan wiradadaha ke 8 yaitu Patih Raden wiratanuwangsa yang bergeral Raden Tumenggung Danuningrat.
Sebelum keberadaan masjid ini, sudah ada masjid berukuran kecil. Bahkan bupati saat itu juga membuat masjid agung itu berpedoman pada tata letak masjid kecil yang sudah ada.
Masjid kebanggaan warga Jawa Barat itu berlokasi di Dusun Kaum Tengah, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Penampilannya memancarkan pesona yang cukup unik. Dari segi arsitektur, Masjid Agung Manonjaya menampilkan keindahan khas Sunda, yang berpadu dengan budaya-budaya lain, semisal Jawa dan bahkan Eropa.
Dilihat sekilas, nuansa bangunan masjid tersebut memadukan unsur-unsur desain Eropa dengan corak Sunda dan Jawa. Pada beberapa bagian di sana, tampak sentuhan art deco, yang menjadi sebuah ciri arsitektur di Negeri Belanda. Begitu pula dengan kesan neoclassical architecture, yang ditunjukkan pilar-pilar pada beranda masjid ini.
Beberapa unsur bangunan yang cenderung menyiratkan percampuran unsur-unsur lokal dengan Eropa klasik adalah atap tumpang tiga, serambi, serta struktur sakaguru yang terdapat di tengah ruang shalat. Begitu pula dengan tiang-tiang yang ada di sana.
Adapun nuansa tradisional tampak dari beberapa elemen, seperti pendopo yang ada di sisi timur. Demikian pula dengan mustaka atau memolo, yang konon merupakan peninggalan Syekh Abdul Muhyi, seorang ulama besar yang wafat di Pamijahan, Tasikmalaya Selatan, pada tahun 1730.
Keberadaan memolo itu mengisyaratkan, betapa besarnya pengaruh kebudayaan Jawa di Tanah Sunda sekalipun. Konsep konstruksi itu bersumber dari adaptasi terhadap ciri khas bangunan saktal di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa Hindu atau pra-Islam. Nuansa khas Sunda terlihat dari adanya bale nyungcung, yakni bentuk atap yang mengerucut.
Menurut catatan sejarah, mustaka atau memolo tersebut merupakan pemberian hadiah dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, ketika masjid tersebut masih berupa mushola.
Mustaka/memolo inilah yang menjadi salah satu ciri penting atap masjid tradisional yang telah diadaptasikan dari elemen-elemen bangunan sakral perpaduan antara Islam dan Hindu pra-Islam di Jawa.
Perjalanan keislaman para bupati Tasikmalaya dibuktikan dengan masih berdirinya masjid agung manonjaya beserta artefaknya, dan keberadaan pondok pesantren pamijahan tinggalan syeh abdul muhyi. berdirinya pondok pesantren pamijahan diikuti pula oleh wilayah lain di kawasan priangan timur provinsi jawa barat. dan inilah pula alasan kenapa tasikmalaya dijuluki kota santri.
Masjid agung manonjaya berkapasitas lima ribu orang hingga kini masih berfungsi sebagai tempat ibadah kaum muslim. Pertama kali renovasi pada tahun 1952, tahun 1972 dan tahun 1992. Renovasi kembali dilakukan setelah gempa tahun 2009. Karena sebagian area masjid agung manonjaya mengalami kerusakan.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: