Bersih Desa di Desa Sidowarek, Kec Plemahan, Kab Kediri, Jawa Timur, XI Science 2, Kelompok 4
Автор: szzsomeone
Загружено: 2026-02-24
Просмотров: 24
Описание:
Mbah Dempok (Tumpak) adalah Tokoh pendiri yang membentuk cikal bakal berdirinya Desa Sidowarek, yang membabat atau membersihkan hutan sehingga menjadi sawah dan desa kemudian dapat di jadikan tempat tinggal penduduk.
Kesimpulan Pertanyaan 1:
Tradisi Nyadran adalah bentuk bersih desa yang juga disebut sebagai sedekah bumi. Nyadran dimaknai sebagai kegiatan membersihkan desa secara menyeluruh (bersih semuanya), baik secara fisik maupun spiritual, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat.
Tradisi sedekah bumi dilaksanakan setahun sekali sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala hasil bumi yang telah diberikan. Segala tanaman dan makanan yang dikonsumsi berasal dari bumi, sehingga melalui Nyadran masyarakat mengungkapkan rasa terima kasih atas rezeki dan keberkahan tersebut.
Kesimpulan Pertanyaan 2:
Tradisi Nyadran telah dilaksanakan sejak zaman leluhur. Sejak wafatnya Mbah Tumpak, pelaksanaannya selalu disertai dengan pagelaran wayang kayu.
Kesimpulan Pertanyaan 3:
Rangkaian acara Nyadran sepenuhnya menjadi wewenang masyarakat Sidowarek dan diatur oleh masing-masing dusun, yaitu Dusun Sidowarek Etan dan Dusun Sidowarek Kulon. Pelaksanaannya dilakukan secara bergantian setiap tahun; setelah Dusun Sidowarek Etan, tahun berikutnya dilaksanakan oleh Dusun Sidowarek Kulon. Meskipun demikian, seluruh masyarakat tetap ikut berpartisipasi dan iuran dilakukan secara bersama tanpa perbedaan, dipikul sama rata.
Kesimpulan Pertanyaan 4:
Pelaksanaan Nyadran diawali dengan pertemuan masyarakat sekitar satu bulan sebelum bulan Ruwah. Seluruh warga dikumpulkan di rumah Kepala Dusun untuk merancang dan membahas perkiraan anggaran yang dibutuhkan. Setiap tahun selalu diadakan musyawarah terlebih dahulu hingga mencapai kesepakatan bersama, sehingga tidak terjadi konflik antarwarga.
Kesimpulan Pertanyaan 5:
Persiapan diawali dengan penarikan iuran dari setiap keluarga yang dilakukan oleh Ketua RT. Selain itu, pada malam Jumat diadakan selamatan pribadi. Pada hari pelaksanaan, yaitu hari Jumat, masyarakat membawa nasi tumpeng, dan acara juga disertai dengan pagelaran wayang kulit.
Kesimpulan Pertanyaan 6:
Ada, terutama sekartelon dan badek. Sekartelon (kembang telon) terdiri dari tiga jenis bunga wangi, yaitu mawar, melati, dan kantil, yang biasa digunakan sebagai sesaji dalam ritual atau upacara adat. Badek merupakan minuman yang terbuat dari beras ketan yang difermentasi dan digunakan sebagai bagian dari perlengkapan tradisi.
Kesimpulan Pertanyaan 7:
Dalam pelaksanaan Nyadran secara adat kejawen, doa dipimpin oleh Juru Kunci yang mengikrarkan ambeng-ambeng yang dibawa masyarakat. Sementara itu, dari kalangan ulama biasanya memimpin tahlil sebagai bagian dari rangkaian acara.
Kesimpulan Pertanyaan 8:
Tujuan Nyadran adalah sebagai bentuk rasa syukur warga desa kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan.
Kesimpulan Pertanyaan 9:
Salah satu manfaatnya adalah mempererat kerukunan antartetangga. Melalui Nyadran, masyarakat dapat berkumpul dan menyatu dalam kebersamaan, yang diungkapkan dengan istilah “Cipta Rasa Manunggal”.
Kesimpulan Pertanyaan 10:
Pelaksanaan Nyadran tidak mengalami perbedaan dan tetap dilaksanakan sebagaimana tradisi sebelumnya.
Kesimpulan Pertanyaan 11:
Nyadran tidak dianggap sebagai sesuatu yang ganjil karena merupakan wujud tasyakuran. Dalam ajaran Islam, orang yang bersyukur kepada Allah akan ditambah nikmatnya, sedangkan yang tidak bersyukur dapat kehilangan nikmat tersebut.
Kesimpulan Pertanyaan 12:
Nilai yang terkandung dalam Nyadran adalah syukuran atau rasa syukur, sehingga tidak melenceng dari ajaran Islam. Pada hari Kamis diadakan khataman Al-Qur’an, malam harinya dilaksanakan tahlil bersama oleh warga desa sebelum hari pelaksanaan. Pada hari H, masyarakat membawa ambeng yang kemudian diikrarkan dalam bahasa Jawa dan dilanjutkan dengan tahlil kembali.
Kesimpulan Pertanyaan 13:
Setiap desa memiliki tata cara yang berbeda. Di desa ini terdapat penggunaan sekartelon dan badek, serta adanya pagelaran wayang kulit. Selain itu, pada Kamis pagi diadakan khataman Al-Qur’an dan malamnya dilaksanakan tahlil bersama.
Kesimpulan Pertanyaan 14:
Tradisi diwariskan secara turun-temurun dengan memberikan bimbingan dan pendidikan kepada generasi muda. Sebagai masyarakat Jawa, penting untuk menjaga adat ketimuran dan memberikan wawasan agar generasi muda tidak melupakan sejarah.
Kesimpulan Pertanyaan 15:
Kendala tergantung pada respons generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan dan pemberian wawasan secara turun-temurun terus dilakukan agar tradisi tetap terjaga.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: