Kawasan PECINAN & Jalur KA yang Lenyap di Kota Magelang
Автор: wibikembara
Загружено: 2022-09-20
Просмотров: 1143
Описание:
Kota Magelang adalah Kota kecil di tengah Pulau Jawa yang mempunyai banyak jejak dalam keberagaman dari berbagai suku bangsa.
Kota ini pada Kerajaan Mataram Islam dikenal juga sebagai penghasil tanaman dan bahan makanan pokok lainnya, karena tanahnya yang sangat subur di kelilingi lima gunung, yaitu Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, dan Menoreh
Pemerintah kolonial Belanda menerapkan tata kota sesuai kawasan hunian berbasis ras.
Hal itu sebagai praktik politik kolonial yang membagi penduduk menjadi tiga ras, yakni golongan warga Eropa, Asia Timur (Arab dan Tionghoa), dan pribumi atau bumiputra.
Dengan kawasan hunian berdasar ras tersebut sangat memudahkan kontrol atas penduduk dan segala permasalahan kependudukan saat itu.
Warga Eropa saat itu bermukim di bagian barat kota yang memang memiliki kontur sesuai dengan kondisi Eropa, agak berada di ketinggian dengan panorama indah Gunung Sumbing, di utara terdapat pusat militer dan rumah sakit militer dengan bangunan-bangunan besar.
Golongan Timur Asing, terutama keturunan Tionghoa, di selatan alun-alun, sedangkan di sisi barat alun-alun golongan Arab bermukim di dekat Masjid Agung Kauman.
Alun-alun menjadi titik atau pusat kota dalam pembagian kawasan tersebut.
Kebijakan kawasan huni berdasar ras di Kota Magelang cukup menguntungkan masyarakat keturunan Tionghoa pada era itu.
Lokasi mereka di tengah kota, dekat alun-alun, di jalur utama, dekat pasar dan markas militer.
Kawasan huni ini terkenal dengan sebutan Pecinan (China Town), tempat warga keturunan Tionghoa.
Kawasan Pecinan menjadi area utama hunian warga keturunan Tionghoa yang juga pusat perekonomian kota.
Jejaknya bisa ditelusuri melalui gang-gang di kawasan Pecinan, baik di sisi kanan maupun kiri sepanjang Jalan Pemuda.
Di kawasan Pecinan ini masih banyak bangunan yang tetap mempertahankan gaya arsitektur awal 1900-an, khususnya atap.
Sedangkan tampak depan sudah banyak berubah menyesuaikan kebutuhan sebagai ruang usaha.
Di kawasan Pecinan, ciri-ciri khas arsitektural sangat terlihat pada elemen-elemen bangunan.
Di beberapa bangunan terlihat penunjuk arah mata angin, hiasan-hiasan pada puncak-puncak atap, hiasan pada tubuh bangunan, dan cungkup pelindung atap yang khas.
bangunan-bangunan di kawasan Pecinan Kota Magelang mempunyai beragam model atau pola arsitektur yang sangat spesifik, sesuai eranya.
Pola arsitektur bangunan di kawasan Pecinan ini juga tidak terpaku satu model bangunan baku saja.
Secara umum, kawasan hunian itu terbangun semenjak perkembangan kota melaju cukup pesat dengan bangkitnya perekonomian Kota Magelang waktu itu.
Tembakau menjadi komoditi utama yang menghidupi kota.
Seiring meningkatnya kemakmuran, banyak hunian dibangun dengan campuran arsitektur Eropa, Jawa, dan Tionghoa.
Diujung jalan pemuda, sebelah selatan alun-alun berdiri Kelenteng Liong Hok Bio yang sempat terbakar hebat, sekarang telah selesai di revitalisasi total menjadi lebih megah.
Di kelenteng Liong Hok Bio ini rutin digelar perayaan Cap Go Meh yang melambangkan hari kelima belas bulan pertama, Imlek, dan hari terakhir rangkaian perayaan Imlek.
Dalam perayaan ini tidak hanya warga Tionghoa yang terlibat. Warga lainnya dari beragam latar belakang juga memeriahkan dalam beberapa kegiatan yang bersifat perayaan, seperti kirab budaya.
Pecinan Kota Magelang, kawasan yang membuat kita selalu rindu mengunjungi.
Nah,
Jalan yang saya lewati tadi, dulu adalah jalur rel kereta api yang menghubungkan magelang dengan kota Yogyakarta.
Makanya pedestrian di jalan pemuda ini lebar karena trace jalan rel kereta api.
Karena perkembangan jaman, dimana laju pertumbuhan angkutan jalan raya semakin pesat, maka jalur rel kereta api ini ditutup.
Jalur kereta api Yogyakarta–Magelang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yang dibuka pada tanggal 1 Juli 1898.
Alasan yang menyebabkan jalur Yogyakarta–Magelang diprioritaskan adalah perlunya transportasi untuk pedagang di Muntilan dan Magelang dan calon tentara yang sedang menjalani pendidikan militer.
Jalur kereta api ini dinonaktifkan menyusul letusan Gunung Merapi pada tahun 1972 hingga 1976 yang menyebabkan banjir lahar dingin serta menyebabkan terputusnya Jembatan Krasak pada tahun 1975.
Jangan lupa untuk berlangganan channel WIBIKEMBARA secara GRATIS dengan cara klik:
LIKE, COMMENT, dan SUBSCRIBE di / wibikembara , dan nyalakan lonceng pemberitahuannya agar tidak ketinggalan update video-video terbaru lainnya.
Wibikembara akan berusaha menampilkan video yang bekualitas, informatif dan bermanfaat bagi pengetahuan kita semua.
Video diambil dengan menggunakan kamera iPhone 6s dan Gimbal Dji Osmo
Terima kasih
#Wibikembara @wibikembara
Instagram: @agung_wibi
Email: [email protected]
#wibikembara #kamerahape #iphone6s #gimbaldjiosmo #pecinan #magelang #jejaksejarah #relkeretaapi #alunalunmagelang #kolonialbelanda #chinatown
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: