Pria Lusuh Dihina Pegawai Dealer Karena Pakai Sandal Jepit, 15 Menit Kemudian Dealer Hampir Bangkrut
Автор: Hikmah Kita
Загружено: 2026-02-24
Просмотров: 13
Описание:
Pagi itu, udara terasa lembap setelah hujan semalam. Pak yanto berjalan perlahan menyusuri trotoar, memegang tas kecil yang warnanya sudah pudar. Di dalam tas itu tersimpan tabungan receh yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun dari pekerjaan serabutan: mengangkat barang, mengecat pagar, membersihkan selokan, apa pun yang bisa ia kerjakan demi cucunya yang sedang sakit.
Baju yang ia kenakan tak lagi layak disebut baru. Kaos birunya pudar, penuh bercak minyak bekas kerja. Celananya sobek sedikit di bagian lutut, dan sandal jepitnya sudah bengkok ke samping. Tapi langkahnya tetap tegas. Hari ini ia berniat mencari tahu harga mobil bekas, berharap suatu hari dapat membawa cucunya berobat tanpa harus menumpang angkot yang sering membuat cucunya kambuh.
Ketika ia memasuki dealer mobil besar itu, semua terasa begitu berbeda. Lantai mengilap seperti kaca, lampu-lampu terang memantulkan kilau dari mobil yang dipajang. Aroma pendingin ruangan bercampur wangi parfum pegawai yang lewat.
Pak yanto berhenti sejenak, melihat sekeliling dengan kagum. Di matanya, tempat ini terlihat seperti dunia lain yang tak pernah ia sentuh. Tapi ia tetap melangkah masuk, mencoba menutupi rasa canggungnya.
Beberapa pegawai menoleh sekilas. Ada yang mengerutkan dahi, ada yang saling berbisik kecil, namun pak yanto tak menghiraukannya. Ia berjalan menuju salah satu mobil putih yang menarik perhatiannya. Mobil itu terlihat cukup besar untuk memuat cucunya yang sering harus berbaring ketika dibawa berobat.
“Pak, mau lihat-lihat mobil?” suara seorang pegawai muda menyapanya—disertai senyum yang tampak dipaksakan.
Pak yanto mengangguk sopan. “Saya hanya ingin tanya harga, nak.”
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, seorang pegawai lain datang menghampiri. Namanya kevin, terkenal sebagai pegawai paling percaya diri di dealer itu. Ia menatap dari atas hingga ke bawah, matanya berhenti lama di sandal jepit yang dipakai pak yanto.
Lalu ia tertawa kecil.
“Serius, pak? Mau beli mobil pakai baju begitu? Sandal jepit pula...” katanya sambil menunjuk kaki pak yanto.
Beberapa pegawai lain ikut melirik, sebagian menutup mulut menahan tawa.
Pak yanto tersenyum kikuk. “Maaf kalau pakaiannya tidak rapi. Saya cuma—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kevin memotong dengan nada meremehkan, “Pak, ini dealer mobil, bukan bengkel pinggir jalan. Orang mau beli mobil itu ya kelihatan. Jangan buang waktu saya.”
Tawa kecil terdengar dari arah belakang. Suara itu menusuk seperti jarum. Pak yanto menunduk, tangan kasarnya mengusap tengkuknya yang mulai panas. Ia tidak marah—hanya malu. Sangat malu.
“Nak… saya benar-benar hanya ingin tanya harga,” ucapnya lirih.
Kevin kembali menunjuk sandal jepit pak yanto, kali ini sambil tertawa lebih keras. “Pak, saya nggak yakin bapak punya cukup uang bahkan buat bayar DP. Lihatlah diri bapak.”
Suasana dealer seketika hening, namun bukan karena iba. Melainkan karena sebagian pegawai menahan tawa, sebagian lagi terkejut dengan keberanian kevin merendahkan orang di depan umum.
Pak yanto mengangkat wajahnya perlahan. Ada cahaya kecil di matanya—bukan marah, tapi lebih seperti rasa perih yang dalam. “Saya cuma ingin memastikan harga. Tidak salah, kan, nak?”
Wajah kevin berubah kesal. “Sudahlah pak. Jangan ganggu calon pembeli lain. Kalau mau lihat mobil, lihat saja di luar lewat kaca.”
Pak yanto terdiam. Kata-kata itu seperti menutup pintu besar tepat di depan wajahnya.
Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Dengan langkah yang sama pelannya seperti saat masuk, ia berjalan menjauh dari kevin. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai dealer itu menahan kakinya untuk memberi kesempatan agar seseorang peduli. Tapi tidak ada yang datang.
Tidak ada yang membelanya.
Tangannya menggenggam tas lusuh lebih erat, seakan takut harga dirinya jatuh bersamaan dengan recehan tabungannya.
Ia tidak tahu… bahwa hanya beberapa menit lagi, hidupnya dan seluruh dealer itu akan berubah selamanya.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: