Mengupas Tradisi Sadranan Masyarakat Temanggung Dan Sejarah Munculnya Tradisi Sadran di Tanah Jawa
Автор: Daily Desa
Загружено: 2023-10-23
Просмотров: 7378
Описание:
Tradisi nyadran dilaksanakan masyarakat desa Muneng setiap bulan ruwah dan mulud untuk menghormati tokoh pendiri dusun Muneng Ki Ageng Raden trenggono Kusumo dan mendoakan arwah leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada tuhan YME.
Ribuan warga masyarakat Dusun Muneng, Candiroto, Temanggung Jawa Tengah tampak antusias menuju Makam Raden trenggono Kusumo
Selain Nasi Tumpeng, mereka juga membawa makanan berupa masakan ayam utuh atau Ingkung serta masakan lainya didalam wadah dari anyaman bambu untuk dihidangkan bersama dipinggir Kuburan dalam ritual tahunan yang disebut Nyadran / Sadranan.
Ki Ageng Trenggono Kusumo merupakan anak dari Prabu Brawijaya V yang konon beragama Islam dengan Ibu Bhre Pananggungan. Sejarah lengkap Ki ageng Trenggono Kusumo telah saya bahas di video sebelumnya
Nyadran adalah suatu tradisi turun-temurun yang terus digelar setiap tahun pada hari Jumat Kliwon bulan Ruwah dan Maulud di Kampung ini.
Sesampai di lokasi Sadranan, warga duduk berjajar di mengelilingi makam.
Dipimpin oleh salah seorang ustadz mereka melantunkan doa kepada tuhan yang maha esa.
Usai pembacaan doa, warga lantas menyantap dan saling bertukar makanan serta dibagikan kepada siapapun yang datang.
Sebelum ritual nydran dimulai, terlebih dahulu diawali dengan bersih-bersih pemakaman dan sekitarnya serta penggatian atap ilalang di atas pemakaman Mbah trenggono,
Masyarakat bergotong royong menaikknya atap ilalang secara estafet. Pembuatan Atap ilalang sendiri di limpahkan kepada warga setempat, setiap kepala keluarga di wajibkan membawa 2 keping anyaman.
Setelah ritual Sadranan di Pemakaman usai, akan disambung dengan acara pengajian, habiban serta pagelaran kesenian tradisional kuda lumping yang digelar selama 3 hari.
Lalu Bagaimana Asal Usul Tradisi Nyadran ini ?
Menurut Ulama kharismatik yang juga Sejarawan KH Ahmad Muwafiq, tradisi Nyadran tak lepas dari upacara yang pernah dilakukan oleh masyarakat Jawa penganut agama Hindu.
Tradisi Nyadran/Srada dilaksanakan pada masa kerajaan Majapahit.
Srada dilaksanakan oleh Raja Hayam Wuruk untuk memperingati kematian Rajapatni.
Upacara ini dilaksanakan pada bulan Badra tahun Jawa 1284 atau 1362 M.
Nyadran juga disinggung dalam kitab Pararaton meskipun hanya sekilas.
Dalam tradisi Jawa asli, Srada hanya dilaksanakan satu kali untuk satu orang setelah kematiannya mencapai 12 tahun hitungan Jawa.
Rajapatni yang dimaksud adalah Putri Gayatri, putri bungsu Raja Kertarajasa yang mangkat pada 1350 M. Upacara Srada dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut.
Lambat laun Srhada menjadi tradisi masyarakat Jawa ketika itu. Pada hari-hari tertentu, mereka membawa sesaji yang terdiri dari hasil panen dan makanan untuk dibawa ke Punden (makam leluhur) hingga dilarung ke Laut sebagai perlambang puji syukur pada Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
Ketika Islam masuk ke Tanah Jawa sekitar abad ke 13, para pendakwah yang lebih dikenal dengan Wali Songo merasa harus berhadapan dengan kultur masyarakat yang sangat kental akan tradisi termasuk upacara Srhada tersebut.
kala itu Para Wali terutama Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang dikenal dengan (Sunan Bonang) berusaha agar Islam dapat diterima oleh masyarkat Jawa dengan kegembiraan dan tanpa pemaksaan.
Para wali songo dalam melakukan syiarnya melakukan pendekatan persuasif, mereka menciptakan sesuatu sebagai daya tarik massa.
Para wali berusaha untuk tetap menghormati segala sesuatu yang sudah menjadi tradisi para penganut ajaran Hindu maupun masyarakat yang belum memiliki agama.
“Kuatnya keyakinan masyarakat akan tradisi membuat para Wali Songo menggunakan cara pendekatan yang menyentuh batin dengan memasukan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi yang dianut oleh masyarakat Jawa.
Sebab jika menyeru masyarakat Jawa langsung dengan ketegasan syariat Islam, pasti dakwah para Wali Songo akan mendapat penentangan dari masyarakat Jawa waktu itu ,”.
Pada saat iman masyarakat sudah mantab memeluk agama islam. mantra-mantra kepada para arwah leluhur saat upacara Shrada, oleh Wali Songo diganti dengan bacaan Tasbih, Tahmid dan Takbir yang dirangkai dengan bacaan surat-surat pendek dari Al Qur’an dan dilestarikan hingga sekarang.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: