Ternyata Begini Ceritanya Awal Mula Brigjen Soepardjo Terpengaruh Paham Komunis
Автор: Intel Melayu
Загружено: 2023-01-06
Просмотров: 159034
Описание:
Ternyata Begini Ceritanya Awal Mula Brigjen Soepardjo Terpengaruh Paham Komunis
Brigjen Soepardjo adalah salah satu tokoh penting dibalik Gerakan 30 September. Lalu, bagaimana awal ceritanya sampai perwira tinggi itu terpengaruh Biro Khusus PKI?
Soegiarso Soeroyo dalam buku,"Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, G30S PKI dan Peran Bung Karno," mengungkapkan, cara pembinaan Biro Khusus PKI untuk menggarap para prajurit TNI agar mendukung PKI dilakukan sebelum, selama, dan sesudah lewat pengumpulan informasi, spotting dan surveillance. Contohnya kasus Brigjen Soepardjo. Mula-mula informasi soal Soepardjo itu dari anggota BTI Ciawi.
Waktu itu Soepardjo masih menjadi Komandan Batalyon di sana. Soepardjo menurut informasi orang BTI itu adalah orang yang tegas, kuat, sangat aktif dalam penghancuran gerombolan DI/TII. Informasi itu lantas diteruskan ke CC PKI.
Kemudian Sjam Kamaruzaman sebagai petinggi Biro Khusus coba menghubunginya. Sjam yang dapat tugas menghubunginya. Sjam lantas datang ke Bogor untuk menemui Soepardjo. Sjam sampai di rumah Soepardjo yang sedang tidak ada di rumah.
Dia lalu menunggu. Selama menunggu Sjam melihat serentetan buku. Sjam mengambil kesimpulan, bahwa Soepardjo suka membaca-baca tetapi belum tahu apa subjeknya.
Sampai akhirnya Sjam bertemu Soepardjo. Dia tidak memperkenalkan diri sebagai anggota PKI, melainkan sebagai pedagang bekas pejuang.
Dalam pertemuan awal, Sjam tak menyinggung sedikitpun tentang politik. Tetapi kontak pertama telah dibuat. Omong-omongan bersifat umum. Pada kunjungan berikutnya omong-omong dilanjutkan tentang masalah sehari-hari. Misalnya ekonomi yang semakin suram saja. Setelah kontak pertama terjalin, Sjam mendapatkan kesan bahwa Soepardjo suka membicarakan masalah pendidikan.
Kontak-kontak berikutnya dipelihara secara baik dan hati-hati. Sjam juga sering-sering membawa oleh-oleh untuk anak-anak Soepardjo. Sampai ia menjadi tamu "harian".
Setelah itu topik pembicaraan ditingkatkan misalnya mengenai masalah Vietnam, Irian Barat, kemudian Nasakom dan Marhaenisme ajaran Bung Karno. Kemudian tentang sosialisme. Dari sini diketahui sedikit-sedikit simpati Brigjen Soepardjo kepada aliran revolusioner. Sampai pada suatu ketika Brigjen Soepardjo memperingatkan Sjam untuk sedikit berhati-hati kalau mau mengunjungi, agar tidak terlalu menarik perhatian tetangganya. Dingatkan bahwa ia bertempat tinggal di komplek militer. Dengan demikian Soepardjo telah mengetahui dalam hubungan apa ia memelihara kontak dengan Sjam.
Menurut Sjam plotting demikian itu sangat penting pada kontak pertama. Setelah mana harus bisa dibuatkan estimasi perlu diteruskan atau tidaknya. Adapun kriteria pembinaan adalah sebagai berikut. Pertama, sikap hormat, luwes dan correct. Kedua sabar, telaten, dan jujur. Ketiga
perhatian. Misalnya kalau datang tak lupa membawa oleh-oleh ala kadarnya untuk anak-anak atau istri si calon. Memperhatikan kesenangan mereka. Memperhatikan ulang tahun mereka dan lain sebagainya.
Keempat, menyesuaikan diri. Baru kemudian setelah yakin akan simpati calon kepada gerakan revolusioner, pembinaan diteruskan dengan pertama-tama memberi bacaan wajib seperti Harian Rakyat-nya PKI, agar diikuti dengan saksama. Kemudian dilanjutkan dengan memberinya brosur Marxisme-Leninisme, dan program partai. Langkah selanjutnya, adalah kesediaan calon untuk menjadi anggota partai. Kalau ja menyatakan kesediaannya, si calon lantas diusulkan kepada CC supaya dilantik, dengan saksi 2 anggota.
Setelah Gerakan 30 September gagal, para pentolannya kocar-kacir melarikan diri. Termasuk Brigjen Soepardjo dan Sjam. Mengutip buku," Kronik 65: Catatan Hari Per Hari Peristiwa G30S Sebelum Hingga Setelahnya (1963-1971)," yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan, setelah sempat melarikan diri usai pemberontakan G30S ditumpas, Brigjen Soepardjo akhirnya bisa diringkus Tim Kalong yang terdiri dari anggota RPKAD. Brigjen Soepardjo, ditangkap Tim Kalong pimpinan Kapten Soeroso pada pukul 05.30 pagi tanggal 12 Januari 1967 bertepatan dengan hari lebaran.
" Pada 12 Januari 1967 jam 05.30 WIB, eks Brigjen Soepardjo bersama anggota Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) Anwar Sanusi berhasil di tangkap tanpa perlawanan dalam suatu penggrebekan oleh Satgas Operasi Kalong yang dikoordinasikan oleh semua unsur intel Angkatan Bersenjata. Mereka tertangkap di rumah seorang Sersan Udara di Pangkalan Halim," tulis Kuncoro Hadi dalam buku yang disusunnya.
Kuncoro Hadi dalam bukunya juga mengungkapkan, pada 16 Januari 1967, harian Kompas memberitakan pernyataan Panglima Komando Wilayah Udara V Komodor Udara Saleh Basarah yang menyatakan bahwa bukan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang memberi perlindungan pada Soepardjo dan Anwar Sanusi tetapi oknum perorangan. Karena itu Saleh meminta perhatian masyarakat bahwa kesalahan itu milik perorangan bukan AURI.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: