NGABUBURIT ASYIK - Masjid Jami Al-Makmur, Saksi Seabad Riuhnya Tanah Abang
Автор: Tribun Sulbar Official
Загружено: 2026-03-16
Просмотров: 44
Описание:
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
Kawasan Tanah Abang di Jakarta menyimpan banyak cerita. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perdagangan yang tak pernah sepi, berdiri sebuah masjid tua yang tetap teguh menghadapi perubahan zaman.
Di Jalan KH Mas Mansyur Nomor 6, Kelurahan Kebon Kacang, Masjid Jami Al-Makmur telah berdiri lebih dari satu abad. Di jantung kawasan ekonomi yang sibuk, masjid ini menjadi ruang tenang bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari riuhnya aktivitas kota.
Sejak awal berdirinya, Masjid Jami Al-Makmur menjadi saksi perjalanan kawasan Tanah Abang dari masa ke masa. Kini, bangunan masjid itu terlihat seakan terhimpit oleh deretan ruko dan pertokoan yang mengelilinginya.
Ghozi, salah satu pengurus masjid, menceritakan bahwa pemandangan tersebut sangat berbeda dengan kondisi puluhan tahun silam. Dahulu, bangunan masjid tampak berdiri lebih megah karena di sekelilingnya belum dipadati bangunan seperti sekarang.
Menurutnya, area di sekitar masjid dahulu masih berupa lahan kosong atau rumah-rumah kecil milik warga. Seiring perkembangan kawasan Tanah Abang menjadi pusat perdagangan, bangunan ruko mulai bermunculan hingga akhirnya mengelilingi masjid.
“Dulu masjid terlihat besar dan megah. Sekarang terlihat lebih kecil karena di kanan-kiri sudah berdiri bangunan ruko,” ujar Ghozi pada Sabtu (7/3/2026).
Sejarah Masjid Jami Al-Makmur bermula dari niat tulus dua orang pewakif, yakni Habib Abu Bakar bin Muhammad Al-Habsi dan Sheikh Abu Bakar bin Sukar. Pada 1914, keduanya membentuk sebuah yayasan bernama Yayasan Masjid Jami Al-Ma’mur yang menjadi cikal bakal berdirinya masjid tersebut.
Setelah dana pembangunan terkumpul dari masyarakat serta para pewakif lainnya, pembangunan masjid dimulai pada 1915. Proses pembangunan itu melibatkan seorang arsitek asal Belanda yang merancang bangunan masjid dengan gaya yang memadukan berbagai unsur budaya.
Bangunan masjid yang didominasi warna putih itu menampilkan perpaduan arsitektur dengan sentuhan budaya Tionghoa dan Portugis. Setelah melalui proses pembangunan selama beberapa tahun, Masjid Jami Al-Makmur akhirnya selesai dibangun pada 1917.
Sejak saat itu, masjid ini menjadi tempat masyarakat sekitar Tanah Abang menunaikan ibadah salat lima waktu dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Ghozi, yang merupakan warga asli Tanah Abang, masih mengingat bagaimana perubahan yang terjadi di sekitar masjid dari waktu ke waktu. Pada masa awal berdirinya, luas bangunan masjid hanya sekitar 40 meter dari pintu utama.
Namun seiring perjalanan waktu, masjid mengalami beberapa kali perluasan. Pada 1932, seorang dermawan bernama Salim bin Talib dari Singapura mewakafkan sebidang tanah di sisi utara masjid. Kemudian pada 1950, perluasan kembali dilakukan ke arah barat.
Dari berbagai tahap perluasan tersebut, area Masjid Jami Al-Makmur kini mencapai luas sekitar 3.500 meter persegi.
Meski telah mengalami sejumlah perubahan, beberapa bagian bersejarah masih tetap dipertahankan hingga kini. Salah satunya adalah mimbar masjid yang masih digunakan sejak awal berdirinya.
Di sisi kiri dan kanan ruang utama masjid juga terdapat dua jam tua yang diperkirakan berasal dari era 1920 hingga 1930-an. Kedua benda itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang masjid serta perubahan kawasan Tanah Abang dari masa ke masa.
Selain ruang utama untuk beribadah, masjid ini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti ruang perpustakaan, ruang taman pendidikan Al-Qur’an (TPA), serta ruang untuk kegiatan majelis taklim.
Hingga kini, berbagai aktivitas keagamaan terus berlangsung di Masjid Jami Al-Makmur. Salat lima waktu, pengajian setelah salat Magrib, pengajian ibu-ibu, hingga pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di masjid tersebut.
Karena itu, masjid ini bukan sekadar bangunan tua yang menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi pusat kehidupan spiritual bagi masyarakat sekitar.
Pedagang, pembeli, hingga musafir yang singgah di kawasan Tanah Abang kerap mampir untuk menunaikan ibadah di tempat ini. Dalam perjalanannya, sejumlah tokoh nasional juga pernah menunaikan salat di Masjid Jami Al-Makmur, di antaranya Presiden pertama Indonesia Soekarno, Wakil Presiden Adam Malik, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Presiden ke-7 Joko Widodo.
Di tengah hiruk-pikuk kawasan perdagangan Tanah Abang, Masjid Jami Al-Makmur tetap bertahan sebagai ruang jeda. Meski kini terhimpit oleh bangunan kios dan pertokoan, suasana di dalamnya tetap menghadirkan ketenangan.
Sejak 1917, doa-doa terus dipanjatkan dari tempat ini, mengalun pelan, mengimbangi riuhnya pasar yang tak pernah benar-benar berhenti.(Tribun Jakarta)
Editor Video: Indra Mahendra
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: