Nasib Istri Aidit Setelah Suaminya Menghilang
Автор: Intel Melayu
Загружено: 2023-04-06
Просмотров: 357740
Описание:
Nasib Istri Aidit Setelah Suaminya Menghilang
Ini cerita tentang nasib istri Aidit setelah suaminya menghilang. Aidit yang dimaksud adalah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Adapun istri Aidit itu bernama, Soetanti. Dia seorang dokter.
Dikutip dari buku,"Aidit: dua wajah Dipa Nusantara," yang disusun Tim Tempo, dikisahkan, pada malam 30 September 1965, Soetanti bertengkar keras dengan DN Aidit, suaminya. Tanti, demikian dia dipanggil, ingin suaminya tetap tinggal di rumah dan tidak mengikuti kemauan
para penjemputnya.
Ketika itu, Aidit dijemput orang berpakaian tentara. Tetapi Aidit memilih pergi. Menurut Tempo dalam buku yang disusunnya,
tiga hari setelah malam kelabu itu, Tanti atau Soetanti menghilang dari rumah meninggalkan tiga anak lakinya yang masih kecil.
Belakangan baru terungkap, Soetanti menyusul Aidit suaminya ke Boyolali dan bertemu Bupati Boyolali yang juga tokoh PKI. Tak lama di Boyolali, Soetanti kembali ke Jakarta dengan cara menyamar.
Soetanti dan Bupati Boyolali itu pura-pura menjadi suami istri. Agar aksi penyamaran ini sukses, dua orang bocah kemudian diambil sebagai anak angkat. Demikian menurut cerita kata Ilham aidit, salah satu anak DN Aidit.
"Suami-istri" palsu ini kemudian mengontrak sebuah rumah di Cirendeu, Jakarta. Sandiwara itu sukses berbulan-bulan, sampai akhirnya para tetangga curiga karena Bupati ini selalu bilang "injih-injih" kepada istrinya.
Sikap dua
anak angkat juga mencurigakan. Mereka tidak pernah manja kepada dua
orang tuanya. Dari situ, keduanya ditangkap.
Menurut Tempo dalam buku yang disusunnya, Soetanti bukan wanita biasa. Kakeknya, Koesoemodikdo, adalah Bupati
Tuban yang pertama. Menolak untuk meneruskan jabatan sang bapak, ayah Tanti, Moedigdo, memilih merantau ke Medan.
Ibu Tanti, Siti Aminah, adalah keturunan ningrat Minang dan teman sekolah Sutan Syahrir. Tanti masuk sekolah kedokteran di Semarang atas biaya RM Soesalit, saudara sepupu ayahnya, yang juga putra tunggal Raden Ajeng Kartini.
Setelah
menikah dengan Aidit, Tanti memperdalam ilmu kedokterannya di Korea dan menjadi dokter ahli akupunktur yang pertama di Indonesia. Setelah ditangkap, Tanti berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya
hingga 1980. Di antaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri.
Dalam sel ia kerap membuat baju untuk anaknya meski salah ukuran dia selalu menduga anak-anaknya masih kecil. Ilham Aidit bercerita, "Begitu dipakai, bajunya
kekecilan."
Sekitar 16 tahun Soetanti tidak berjumpa anaknya. Soalnya, paman yang
memelihara bocah-bocah itu tak berani membawa mereka menjenguk ibunya di Bukit Duri. Lepas dari penjara Tanti masih sempat berpraktek sebagai dokter. Setelah sembilan tahun sakit-sakitan, Soetanti meninggal pada tahun 1991.
Lalu siapa yang menjemput Aidit hingga Ketua PKI itu menghilang dan tertangkap di Solo pada 22 November 1965? Mengutip buku, "Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualang," yang ditulis Julius Pour, malam itu, di malam 30 September 1965, Aidit dan pengawal pribadinya, Koesno, dijemput Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan AURI. Mereka oleh Mayor Sujono kemudian diajak ke Wisma Angkasa, rumah dinas
Panglima Angkatan Udara Omar Dani yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ternyata rumah dinas Omar Dani dalam keadaan kosong. Sujono mulai kebingungan karena petugas keamanan di sana, meski sesama anggota AURI ternyata tidak mau menjelaskan ke mana Omar Dani pergi. Merasa penasaran tidak menemukan Omar Dani di rumah dinas, Sujono mencoba langkah lain, mengajak Aidit ke Jalan Oto lskandardinata di Jakarta Timur. Itu rumah mertuanya Omar Dani.
Hari sudah menjelang tengah malam ketika tiba di rumah mertuanya Omar Dani. Tapi rumah mertua Omar Dani telah terkunci rapat. Penghuninya tertidur lelap. Mayor Sujono lantas menggedor pintu. Setelah dibuka, kekecewaan sekali lagi menimpa Mayor Sujono.
Penjaga rumah menjelaskan, "Bapak Omar Dani tidak pernah menginap di sini "
Akhirnya, Mayor Sujono mengajak Aidit dan Koesno ke Kompleks Perumahan AURI di Halim. Tiba di sana, beristirahat di rumah dinas seorang bintara AURI. Rumah tersebut tampaknya sudah lama dipersiapkan oleh komplotan G30S. Malahan secara resmi telah diberi sebutan Central Komando (Cenko) II terkait dengan Cenko I di Kantor Penas, tempat para tokoh komplotan pada malam tersebut mempersiapkan diri sebelum berangkat melakukan operasi penculikan.
Menurut Julius Pour, dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa, Mayor Udara Sujono mengemukakan versinya. Menjelang tengah malam tanggal 30 September, dia diperintahkan Brigadir Jenderal Soepardjo menjemput Aidit dan Jenderal Pranoto di rumah Sjam. Dari Kantor Penas dia naik mobil Deparlu, dikemudikan Sersan I Udara Muljono, salah seorang pengawal Soebandrio.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: