Respons Tak Terduga Menteri HAM Natalius Pigai Tanggapi Kritik Ketua BEM UGM Soal MBG
Автор: Tribun Kaltim Official
Загружено: 2026-02-21
Просмотров: 14681
Описание:
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.
Baca berita selanjutnya: https://kaltim.tribunnews.com/news/11...
TRIBUNKALTIM.CO - Kontroversi program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru. Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengirim surat terbuka kepada UNICEF yang menyoroti tragedi meninggalnya siswa kelas IV SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR.
Surat tertanggal 5 Februari 2026 yang diunggah di Instagram pribadi Tiyo pada 6 Februari 2026 itu viral di media sosial.
Dalam surat berbahasa Inggris yang ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell, BEM UGM mengkritik keras prioritas anggaran pemerintah, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa itu disebut sebagai ironi besar di tengah rencana anggaran MBG 2026 yang mencapai Rp 335 triliun.
Dari total tersebut, Rp 223 triliun disebut bersumber dari anggaran pendidikan dalam APBN 2026 yang keseluruhannya mencapai Rp 769,1 triliun.
Dalam narasinya, BEM UGM menyiratkan bahwa insiden tragis itu mencerminkan kegagalan negara memenuhi hak dasar anak atas pendidikan.
Surat itu juga memuat kritik tajam terhadap Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam salah satu bagiannya, disebutkan bahwa keluarga miskin di pedesaan seharusnya tidak dipaksa menanggung beban ketidakadilan struktural, sementara kemiskinan diduga dimanfaatkan sebagai alat elektoral menuju Pemilu 2029.
Respons keras datang dari Menteri HAM RI Natalius Pigai.
Ia menilai pihak yang mengaitkan program MBG dan kebijakan pemerintah lainnya dengan kepentingan elektoral 2029 sebagai tindakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Menurut Pigai, tudingan bahwa MBG digunakan untuk mendongkrak suara pemilu merupakan pandangan yang tidak beretika dan tidak bermoral.
Ia menegaskan bahwa mengarahkan program-program sosial untuk kepentingan elektoral justru bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin, kelompok lapar, dan warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Pigai bahkan menyebut bahwa pihak yang mengaitkan MBG dengan agenda politik telah kehilangan nurani terhadap penderitaan rakyat kecil.
Pertarungan Narasi: Populisme Elektoral atau Perlindungan Anak?
Di satu sisi, BEM UGM menyoroti dugaan kegagalan negara dalam melindungi hak anak, dengan menjadikan tragedi YBR sebagai simbol ironi kebijakan anggaran.
Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri HAM menegaskan bahwa MBG merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada rakyat kecil dan selaras dengan agenda global perlindungan anak.
Polemik ini memperlihatkan benturan tajam antara kritik mahasiswa dan pembelaan pemerintah, sekaligus membuka perdebatan publik soal prioritas anggaran, efektivitas program sosial, dan sensitivitas terhadap tragedi kemiskinan ekstrem.
Penulis: Fachri Mahayupa
Sumber: Tribunnews.com
Editor: Jofan Giantirta
Uploader: Jofan Giantirta
#makanbergizigratis #nataliuspigai #tiyoardianto #HAM #UGM #ketuabemugm
0:00 Respons Menteri HAM Tanggapi Kritik Ketua BEM UGM Soal MBG
0:43 Tragedi Rp10 Ribu dan Kritik ke Anggaran Rp335 Triliun
1:43 Pigai: Mengaitkan MBG dengan Pemilu Adalah Tidak Bermoral
3:06 Klaim MBG Sejalan dengan Misi PBB dan UNICEF
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: