Anak Tiriku Menendangku Dari Kursi Meja Makan, “Minggir Kau S3t4n, Ini Punya Ibuku”—Jadi Besoknya...
Автор: Cerita Hati Lansia
Загружено: 2026-02-03
Просмотров: 2901
Описание:
Anak tiriku menendangku di meja makan. Dia berteriak, "Kursi ini tempat ibuku! Minggir kau setan!" Aku terjatuh ke lantai di depan seluruh keluarganya. rasa sakitnya tak seberapa, tapi rasa malunya sungguh luar biasa. Dan sejak saat itu juga, Aku mengubah hidupnya selamanya! Keesokan paginya, ponselnya berdering tanpa henti dan membuatnya sangat panik!
Namaku Rumi Cahyani, usiaku 63 tahun. Usia yang terasa begitu menyesakkan dada. Hidup terkadang memberi kita banyak pelajaran, seperti badai yang menerpa berulang kali, tapi kita masih tetap berdiri. Aku pun tak menyangka di masa-masa akhir usiaku, aku masih harus merasakan sakitnya dada ini.
Saat Lebaran tahun lalu, sejak subuh aku sudah di dapur rumah Ilham, tapi rasanya seperti numpang di rumah orang. Panci opor mendidih, ketupat menggantung, kue kering tertata di toples. Tangan dan pinggangku pegal, tapi setiap ada yang masuk dapur aku tetap tersenyum.
"Bu Rumi, santannya jangan kebanyakan nanti enek." Komentar seorang tante dari ruang makan tanpa menoleh.
"Iya, Bu," jawabku.
Padahal dari tadi aku yang mengurus semua. Dari sela pintu aku melihat Ilham duduk di ruang tamu, baju koko putih, dikelilingi keluarga almarhum istrinya. Mereka tertawa keras, saling cerita.
"Dulu opor Mbak Titin baru buka pintu aja udah kecium." Celetuk seorang ibu-ibu.
"Beda tangan. Bu, namanya juga istri kedua." Sahut yang lain disambut tawa. Aku pura-pura tidak dengar.
Sudah 10 tahun aku menikah dengan Ilham Purnomo. Tapi di rumah ini aku tetap istri kedua. Rumah makin penuh, anak-anak kecil lari. Keponakan remaja sibuk foto-foto. Bapak-bapak di teras. Aku mondar-mandir membawa gelas dan piring.
"Bu, gelas kotor itu dibawa ke dapur, ya?" Kata seorang keponakan Ilham.
"Baik," jawabku. Tidak ada ucapan terima kasih. Aku tidak lagi berharap.
Aku baru selesai menata sambal ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Beberapa orang langsung berseru, "Eh, Susan datang\!" Aku berdiri di ambang pintu dapur. Susan Novianti turun dari mobil dengan gamis krem dan tas mahal. Wajahnya cantik, rapi, penuh percaya diri. Ia melangkah masuk seolah rumah ini punya dia.
"Papa mana?" tanyanya sambil menyalami beberapa tante.
"Di dalam," jawab mereka antusias.
Susan langsung menuju Ilham. "Selamat Lebaran, Pah," katanya manja sambil memeluk.
Ilham tertawa senang. "Selamat Lebaran. Anak Papa makin cantik."
Aku keluar sedikit. "Selamat Lebaran, San," ucapku pelan. Susan menoleh. Matanya menyapu bajuku yang sederhana. Bibirnya tersenyum tipis. "Iya, Bu," jawabnya, lalu langsung berbicara lagi dengan yang lain. Seolah aku hanya bayangan di sudut rumah.
Saat makan siang, meja makan panjang penuh hidangan. Di ujung meja, kursi kepala meja untuk Ilham. Di sebelahnya ada kursi kosong. Dulu kursi itu milik almarhum istrinya.
"Rumi. Ayo makan bareng. Jangan di dapur terus," kata Ilham. "Capek, kan?"
Aku melihat sekeliling. Kursi lain hampir penuh. Kursi di samping Ilham masih kosong. Mungkin kali ini aku boleh duduk di sana. Pelan-pelan aku berjalan ke kursi itu, menahan nyeri lutut. Tanganku memegang sandaran kursi. Susan muncul dari sisi lain meja, membawa piring. Ia berhenti tepat di depanku seberang meja. Senyumnya rapi, tapi matanya dingin.
Aku menarik kursi sedikit, mulai menurunkan badan. Tiba-tiba sesuatu keras menghantam tulang keringku di bawah meja. Aku terkejut. Sakitnya tajam, belum sempat menarik napas. Tendangan kedua datang lebih keras. Kakiku goyah, kursi bergeser. Tanganku mencari pegangan di meja, tapi menyentuh piring saji yang licin. Tubuhku jatuh ke samping. Brak\! Lantai dingin menampar punggungku. Sendok garpu bergetar, beberapa piring bergoyang. Ruangan hening, hanya napasku yang terdengar di telinga sendiri. Lututku nyeri, pinggangku perih, mataku berkunang.
Dari bawah meja, aku melihat kaki Susan kembali diam di tempatnya. Rapi. Ia melangkah mundur sedikit lalu menatapku dari atas. Wajahnya dibuat-buat kaget, tapi suaranya keras. "Kursi ini milik ibuku," katanya jelas, sengaja mengeraskan suara. "Minggir kau, setan\!"
Hening sesaat, beberapa orang menahan napas. Beberapa berpura-pura sibuk mengambil kerupuk.
"Susan, jangan ngomong gitu." Ilham berdiri, tapi suaranya ragu, tidak benar-benar melarang.
🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain.
📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi.
⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun.
🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru.
#kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga
Cerita Hati Lansia
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: