Rahasia di Balik Kepergian Ibrahim bin Adham
Автор: Pemuda Tasawuf
Загружено: 2025-02-14
Просмотров: 87217
Описание:
Tahukah Anda Mengapa Ibrahim bin Adham Meninggalkan Takhta dan Kekayaannya? Suatu hari, seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham, “Apa yang membuatmu meninggalkan kerajaanmu?”
Ibrahim menghela napas, lalu menjawab, “Aku pernah duduk di atas takhtaku, dan seorang pelayan memegangkan cermin di hadapanku. Saat aku melihat ke dalamnya, bukan wajahku yang tampak, melainkan sebuah kuburan yang sunyi, tanpa sahabat, tanpa bekal, dan perjalanan panjang yang harus kutempuh. Aku juga melihat seorang hakim yang adil, namun aku tak memiliki siapa pun yang bisa membelaku. Sejak saat itu, aku membenci kerajaanku.”
Sahabat-sahabatnya bertanya lagi, “Lalu, mengapa engkau meninggalkan Khurasan?”
“Di sana, aku sering mendengar orang berbicara tentang sahabat sejati, tetapi aku tak menemukannya,” jawab Ibrahim.
Seseorang bertanya, “Mengapa engkau tidak menikah lagi?”
Ibrahim tersenyum tipis, lalu balik bertanya, “Maukah seorang wanita menikahi suami yang membuatnya lapar dan tak berpakaian?”
Mereka menggeleng, “Tidak.”
“Itulah sebabnya aku tak menikah lagi. Jika bisa, aku ingin menceraikan diriku sendiri dari dunia ini. Bagaimana mungkin aku membawa orang lain dalam perjalanan sulitku?”
Saat itu, seorang pengemis yang ikut mendengarkan bertanya, “Mengapa engkau berkata demikian?”
Ibrahim menatapnya lalu berkata, “Pengemis yang menikah ibarat seseorang yang menumpang perahu. Saat anak-anaknya lahir, ia akan tenggelam.”
Suatu hari, Ibrahim melihat seorang pengemis yang meratapi nasibnya. Ia mendekatinya dan berkata, “Aku yakin kau mendapatkan pekerjaan ini dengan gratis.”
Pengemis itu terkejut, “Mengemis diperjualbelikan?”
“Tentu!” jawab Ibrahim. “Aku sendiri membelinya dengan melepaskan kerajaan Balkh, dan aku merasa sangat beruntung!”
Pernah juga seseorang datang menawarkan seribu dinar kepadanya. “Terimalah uang ini,” katanya.
Ibrahim menggeleng, “Aku tidak menerima pemberian dari pengemis.”
Orang itu tersinggung, “Aku bukan pengemis! Aku kaya raya!”
Ibrahim menatapnya tajam, lalu bertanya, “Apakah engkau masih menginginkan lebih banyak harta?”
Orang itu menjawab, “Ya.”
“Kalau begitu, bawalah kembali uangmu. Engkau adalah ketua para pengemis. Bahkan lebih miskin daripada mereka.”
Harta, jabatan, dan kekuasaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Orang yang terus mengejar dunia tak ubahnya seperti pengemis yang tak pernah puas. Kekayaan sejati terletak pada hati yang merasa cukup dan jiwa yang tenang.
Tadzkiratul Auliya - Fariduddin Attar
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: