Kenapa Malaysia selalu ngotot klaim budaya indonesia? sudah 2025 loh
Автор: INformasi
Загружено: 2025-09-16
Просмотров: 4679
Описание:
Lagi-Lagi Lagu Indonesia di Klaim. sudah 2025 masih saja berbalik di kata “belajarlah berkongsi budaya. disini juga ada jawa, minang, bugis.”
—-
Kenapa Malaysia selalu ngotot klaim budaya indonesia? sudah 2025 loh.
—-
Hallo Guys selamat datang diinformasi. kali ini saya akan membahas tentang Setiap kali hari kemerdekaan Malaysia tiba, tak jarang muncul kontroversi terkait budaya. Baru-baru ini, sebuah video medley lagu daerah ditayangkan di media sosial Malaysia, berisi **Chan Mali Chan**, **Gelang Sipaku Gelang**, dan **Rasa Sayang**. Lagu-lagu ini kemudian dipromosikan sebagai bagian dari perayaan nasional.
Masalahnya, ketiga lagu itu punya *akar sejarah jelas di Indonesia* seperti
Chan Mali Chan memiliki kesamaan kuat dengan Anak Kambing Saya dari NTT.
Gelang Sipaku Gelang berasal dari Maluku.
Rasa Sayange juga lagu rakyat Maluku yang tercatat sejak lama dalam tradisi lisan.
Secara etnomusikologi dan pencatatan sejarah, lagu-lagu itu memang lahir di wilayah Indonesia. Tetapi di Malaysia, sering kali dipromosikan seolah-olah lagu tradisional Melayu Malaysia.
Ketika muncul protes dari Indonesia, sebagian warganet Malaysia kerap berlindung di balik narasi “kita berkongsi budaya, kita satu rumpun Nusantara”*. Bahkan ada komentar yang menyebut, *“Orang Indonesia belajar menerima kenyataan, di Malaysia juga ada Melayu, Jawa, Bugis, Minang. Jadi budaya itu juga milik Malaysia.”
Logika ini jelas bermasalah. Berbagi bukan berarti mengklaim. *Berkongsi budaya ≠ memiliki hak asal-usul budaya.*
Analoginya sederhana:
Indonesia sudah lama mengenal **barongsai**, bahkan jadi atraksi penting tiap Imlek. Tapi tidak pernah ada klaim bahwa barongsai adalah “budaya asli Indonesia”. Semua orang tahu barongsai berasal dari Tiongkok.
*Gamelan Jawa* sudah dimainkan di Belanda, Suriname, bahkan Amerika. Tetapi masyarakat di sana tetap menyebutnya budaya Jawa/Indonesia yang dimainkan di negara mereka, bukan budaya asli setempat.
Kalau logika Malaysia dipakai, maka karena ada barongsai di Indonesia, otomatis kita bisa klaim barongsai sebagai budaya nasional. Jelas tidak masuk akal.
Etnis Jawa, Minang, Bugis, dan Mandailing memang banyak merantau ke Malaysia. Mereka membawa bahasa, adat, dan lagu dari tanah asal. Tapi **migrasi orang tidak otomatis memindahkan asal-usul budaya**. Rendang tetap dari Minangkabau, meski bisa dijumpai di restoran Malaysia. Wayang tetap dari Jawa, meski dimainkan di Johor atau Selangor.
Menyebut “karena ada di sini maka jadi budaya Malaysia” sama saja menafikan sejarah. Yang benar adalah: budaya itu *dibawa, dipelihara, dan dipraktikkan di Malaysia* oleh komunitas perantau, tapi tetap punya akar dari Indonesia.
Ada beberapa faktor yang menjelaskan kenapa kasus ini berulang:
pertama. *Pencarian identitas nasional.* Malaysia sebagai negara muda (1957) berusaha memperkuat simbol kebudayaan. Karena masyarakatnya multietnis, budaya Melayu tradisional kerap dijadikan identitas resmi, termasuk warisan Nusantara yang ada di Indonesia.
kedua. *Narasi defensif.* Daripada mengakui asal-usul Indonesia, istilah “berkongsi” dipakai untuk meredam konflik, meski ujungnya tetap framing bahwa budaya itu “milik bersama”.
ketiga. *Kurangnya literasi sejarah.* Banyak masyarakat awam yang tidak tahu detail asal-usul lagu, tarian, atau makanan. Mereka hanya tahu budaya itu populer di sekolah atau festival Malaysia, sehingga dianggap asli.
keempat. *Dominasi narasi lokal.* Jika lebih banyak situs atau media Malaysia menulis “Rasa Sayang, lagu tradisional Malaysia”, maka hasil pencarian di Google Malaysia juga akan cenderung menampilkan klaim tersebut.
Masalah utama dalam polemik budaya Indonesia–Malaysia bukanlah apakah lagu atau tradisi itu boleh dipraktikkan di dua negara. Wajar kalau budaya Nusantara menyebar. Yang jadi persoalan adalah **klaim asal-usul**.
Orang Indonesia tidak keberatan berbagi. Tapi berbagi bukan berarti melepas hak sejarah. Asal-usul tetap harus diakui, agar tidak terjadi pengaburan identitas.
Jadi, kalimat “kita berkongsi budaya” jangan dijadikan tameng untuk klaim sepihak. Yang kita butuhkan adalah *kejujuran sejarah* dan **pemberian kredit yang tepat**, bukan pembenaran logika yang cacat.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: