Karya Tari "Woh Laku" Padepokan 54 | Clairine Faiza
Автор: Clairine Faiza
Загружено: 2026-02-04
Просмотров: 205
Описание:
"Woh Laku"
Koreografer : Clairine Faiza Saharani Putri Kusumawardhani, S.Sn.
Komposer : Raffly Anggara Putra, S.Sn.
Penari : Izza & Nadine
Sinopsis
Laku spiritual khususnya masyarakat Desa Wajak Kabupaten
Tulungagung, dalam memperjuangkan keberlangsungan hidup
masyarakat sekitar, yang rerata petani di musim kemarau panjang.
Latar Belakang
Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu wilayah di Provinsi
Jawa Timur yang memiliki beraneka ragam budaya dan tradisi. Setiap desa
di Kabupaten Tulungagung tradisinya sangat melekat pada masyarakat
dengan ciri khas masing-masing. Salah satu tradisi sekaligus menjadi
fenomena kebiasaan masyarakat lokal setiap musim kemarau Panjang
yakni tradisi Tiban. Tradisi ini berasal dari Desa Wajak, Kecamatan
Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Kebiasaan masyarakat yang
mayoritas petani di Kabupaten Tulungagung khususnya Desa Wajak
meyakini bahwa ketika kemarau panjang melangsungkan tradisi Tiban
dapat menurunkan hujan. Tradisi ini dilakukann untuk keberlangsungan
pengairan dan kesuburan pertanian agar bisa panen.
Tradisi Tiban dilakukan oleh 2 pemain yang masing-masing
memegang ujung dari sodo aren, dan melakukan cambuk menyambuk
sejumlah 6 kali. Umumnya Tiban diiringi dengan alat musik gamelan berciri
khas ketukan kenthongan yang menghasilkan resonansi atmosfer cuaca
dengan mengandung curah hujan. Pada zaman dahulu para pemain Tiban
melakukan laku spiritual bermalam di makam leluhur Desa Wajak. Hal
tersebut dilakukan untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa bersama
leluhur Desa Wajak yang telah mendahului untuk menghormati babat
tanah Wajak. Laku spiritual ini dipercaya pemain Tiban yang akan unjuk
kebolehan esoknya agar bisa mendapat kekuatan lebih. Hal tersebut yang
memantik untuk dijadikan gagasan karya tari ini.
Gagasan
Berpijak pada fenomena tersebut diambil ide gagasan yakni fenomena
kebiasaan yang mentradisi para masyarakat khususnya petani di Desa
Wajak yaitu melakukan ritual tradisi Tiban saat kemarau panjang.
Kebiasaan ini merupakan kegiatan yang menafsirkan spirit perjuangan dan
pengorbanan untuk dapat melangsungkan keberlanjutan hidup pertanian
yang menjadi sumber utama pangan dalam kehidupan.
Ide Garap
Bagian pertama menggambarkan situasi saat kemarau panjang tiba
dengan tawaran visual interpretasi masyarakat yang sedang merasakan
kekeringan, kegersangan, dan kesusahan.
Bagian kedua merupakan representasi masyarakat yang bangkit
dari keterpurukan dan mendapatkan petunjuk untuk melalui laku spiritual
berdoa kepada Sang Maha Kuasa bersama leluhur yang telah mendahului.
Dipercaya akan mendapatkan kekuatan lebih.
Bagian ketiga ketika kepercayaan dan kekuatan sudah berhasil
didapatkan saatnya melangsungkan tradisi Tiban dengan 6 cambukan.
Bagian keempat penggambaran rasa syukur masyarakat yang
diberkahi turunnya hujan selepas melangsungkan Tiban.
Bagian kelima wujud suka cita para masyarakat yang rerata petani
tersebut akhirnya dapat melangsungkan keberlanjutan pertaniannya yang
merupakan sumber utama kebutuhan pangan dalam kehidupan yaitu
menanam padi dan panen untuk dijual ke pasar.
Ide Gerak
Ragam gerak yang digunakan berpijak pada ide garap masing-masing
bagian. Bagian pertama menggunakan komposisi gerak flooring dengan
mengeksplorasi dedaunan kering. Bagian kedua menggunakan motif gerak lifting untuk penggambaran keberadaan yang jauh saat memperoleh
petunjuk. Spirit mistis dan penghormatan ketika berada di sebelah makam
leluhur. Serta penggambaran berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Sedikit
pada bagian transisi memasukkan repertoar gerak cakil untuk
melambangkan kecepatan dan ketangkasan setelah mendapatkan
kekuatan. Bagian ketiga masuk Tiban ini merupakan pengembangan motif
gerak tiban dalam wujud keprajuritan dengan properti sodo aren. Bagian
keempat wujud bersyukur dengan adaptasi ekspresi gerak menanam padi
dan mengambil air. Bagian kelima suka cita menggunakan eksplorasi gerak
panen nggebyok pari (memisahkan padi dengan batangnya).
Ide Musik
Garap musik yang diterapkan pada karya ini menggunakan
instrument gamelan jawa dengan ciri khas gaya Tulungagung. Penyusunan
iringan disesuaikan dengan kebutuhan garap tari untuk mendukung
suasana karya. Selain itu, juga diterapkan vokal tambahan berupa suara
hewan untuk membangun suasana pada bagian awal. Pengisian suara
hujan pada karya ini dihasilkan dari suara beras yang dimasukkan ke
dalam pipa guna menghasilkan suara riuhnya hujan.
Ide Setting dan Properti
Setting dedaunan kering tersebar dilantai merupakan penggambaran
suasana kering dan tandus kemarau panjang. Properti portable dengan
bentuk dasar 2 kubus diolah menyerupai kijing (makam), yang ketika
dipisahkan dan dibalik menjadi trap/level, ketika dibuka menjadi lumbung
padi.
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: