PETILASAN JAKA TINGKIR || DI RAWAGEDE KARAWANG
Автор: DEHU CHANNEL
Загружено: 2022-09-12
Просмотров: 847
Описание:
SEJARAH SINGKAT JAKA TINGKIR
Jaka Tingkir lahir dari ayah yang bernama Ki Kebo Kenanga/Ki Ageng Pengging dan ibunya Nyi Ageng Pengging. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Setelah wafat ayahnya yaitu Ki Ageng Pengging, Mas Karebet tinggal di Desa Tingkir bersama Nyi Ageng Tingkir sebagai orang tua angkatnya. Dari sinilah sebutan Jaka Tingkir disematkan kepada Mas Karebet yang artinya adalah pemuda dari Desa Tingkir.
Jaka Tingkir yang masih keturunan bangsawan Majapahit tumbuh menjadi anak yang nakal. Senang mengembara ke gunung-gunung, ke bukit-bukit, keluar masuk hutan, mendatangi tempat-tempat wingit dan angker atau pun menyepi di goa-goa. Di setiap tempat yang dikunjunginya Jaka Tingkir selalu menyempatkan diri untuk menimba ilmu kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib. Selain sering menyepi dan bertapa di goa-goa dan melatih sendiri keilmuannya, Jaka Tingkir juga sering mendatangi panembahan-panembahan dan begawan untuk belajar agama dan memperdalam keilmuannya. Semakin bertambah usianya semakin bertambah ilmunya, sehingga ia memiliki kesaktian yang sulit sekali dicari tandingannya di antara anak-anak lain seusianya.
Jaka Tingkir banyak menimba ilmu dari beberapa guru sakti di Demak. Salah satu yang menjadi gurunya adalah Panembahan Ismaya, seorang ahli ilmu kebhatinan. Banyak sudah yang Jaka Tingkir pelajari dari gurunya Panembahan Ismaya. Namun Panembahan Ismaya merasa apa yang telah diturunkan kepada Jaka Tingkir masihlah belum cukup untuk bekal Jaka Tingkir dimasa depan kelak. Maka diperintahkanlah Jaka Tingkir untuk pergi ke Cirebon guna menemui seseorang untuk berguru kepadanya.
MELAKUKAN PENGEMBARAAN
Sesuai dengan saran dan petunjuk gurunya, Jaka Tingkir melakukan perjalanan ke Cirebon. Menyusuri luasnya hutan belantara yang gelap dan belum terjamah oleh siapapun. Bagi seorang Jaka Tingkir berada ditengah hutan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Berada dihutan yang wingit untuk memperdalam ilmu memang kegemarannya sejak kecil. Tak ada rasa takut sama sekali. Justru Jaka Tingkir amat antusias sekali melakukan perjalanan ini.
Sesampainya di Cirebon ternyata orang yang dicari tidak ada. Menurut informasi yang didapat bahwa orang itu tengah berada disuatu tempat di wilayah Padjadjaran. Tepatnya berada di Muara Tujuh. Tempat yang pastinya sangat asing bagi Jaka Tingkir. Kembali ke Demakpun rasanya tidak mungkin karena itu berarti melanggar perintah Panembahan. Dan itu bertentangan dengan sifat ksatria yang memang sudah tertanam dalam diri Jaka Tingkir. Apapun yang terjadi Jaka Tingkir harus bisa bertemu dengan orang yang dimaksud Panembahan Ismaya dan melaksanakan amanatnya. Maka dari itu Jaka Tingkir memutuskan meneruskan perjalanannya untuk menemukan tempat yang bernama Muara Tujuh itu. Dari sinilah pengembaraan menuju Muara Tujuhpun dimulai.Sebenarnya siapa sosok yang harus ditemui oleh Jaka Tingkir? Mengapa Panembahan Ismaya menyuruh Jaka Tingkir untuk berguru kepada orang ini? Seseorang yang sakti mandra gunakah? Tentu pertanyaan ini akan terjawab bilamana Jaka Tingkir bisa menemukan tempat bernama Muara Tujuh itu.
Dalam perjalanannya Jaka Tingkir tentunya banyak pengalaman dijumpai. Manakala Jaka Tingkir beristirahat disuatu tempat (baca:kampung) konon katanya menjadi cikal-bakal nama tempat itu. Contohnya Kampung Kaceot dan Reundeuk Daweung yang berada di Desa Kalangsari Kecamatan Rengasdengklok.
Dari berbagai informasi yang didapat akhirnya Jaka Tingkir sampai di tempat tujuan yakni Muara Tujuh. Sebuah perkampungan kecil yang sekelilingnya dipenuhi oleh rawa-rawa yang luas. Dikatakan Muara Tujuh karena disitu tempat bertemunya tujuh aliran sungai. Pada saat itu orang-orang di Kampung Muara Tujuh jumlahnya masih sedikit. Namun disana Jaka Tingkir tidak langsung dapat menemukan seorang guru yang dimaksud oleh Panembahan Ismaya karena tidak ada satupun orang yang mengenalnya. Jaka Tingkir tidak mau pulang ke Demak dengan tangan hampa. Apalagi sudah melakukan perjalanan sampai sejauh ini. Jaka Tingkirpun merasa betapa susahnya mencari seorang guru yang dimaksud oleh Panembahan Ismaya itu. Sehingga membuat rasa penasaran yang tinggi dalam pikiran Jaka Tingkir. Ditengah kebingungannya Jaka Tingkir memutuskan untuk singgah beberapa waktu terlebih dahulu di Muara Tujuh sambil terus memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Sebelum Jaka Tingkir datang Ki Cepret lebih dulu bermukim di Muara Tujuh bergabung dengan masyarakat sekitar membantu membuka lahan yang nantinya akan menjadi suatu perkampungan dan pesawahan. Jaka Tingkir terus menerus memperhatikan orang-orang disekitarnya. Sehingga dapat diketahui sifat dan watak para penduduk di Muara Tujuh.
lanjut di link berikut.
link cerita : https://www.onediginews.com/sejarah-m...
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: