Nyai Ambetkasih, istri Maharaja Prabu Siliwangi
Автор: SEJARAH MITOS DAN FAKTA
Загружено: 2026-01-24
Просмотров: 49
Описание:
Nyai Ambetkasih, atau Nhai Ambet Kasih, atau Nyai Rambut Kasih, atau Ngambetkasih, adalah salah satu istri Maharaja Kerajaan Sunda-Galuh atau Pajajaran, Prabuguru Dewataprana Sri Baduga Maharaja, atau Prabu Siliwangi, atau Raden Pamanahrasa.
Nama Nyai Ambetkasih tertulis dalam Naskah Sunda Kuno, berjudul Cariosan Prabu Siliwangi, yang ditulis di atas kertas kayu atau Daluwang, pada tahun 1435 Masehi.
Naskah Cariosan Prabu Siliwangi ini disalin ulang pada tahun 1675, dan kini disimpan di Museum Geusan Ulun Sumedang, Jawa Barat.
Selain itu, nama Ambetkasih juga tercatat dalam naskah lontar Carita Ratu Pakuan, dan Cerita Purwaka Caruban Nagari.
Nyai Ambetkasih adalah putri Ki Gede ing Sindangkasih, Juru Pelabuhan Muarajati Cirebon, putra Prabu Rahyang Bunisora Suradipati, atau Prabu Rahyang Borosngora.
Prabu Bunisora Suradipati adalah adik Prabu Linggabuana, yang gugur dalam Perang Bubat.
Ia menjadi wali, karena putra Linggabuana, yaitu Niskala Wastu Kancana, masih berusia 7 tahun.
Kelak dikemudian hari, Niskala Wastu Kancana menikahi putri pamannya, Bunisora Suradipati, yaitu Dewi Mayangsari, atau Nyai Ratna Mayangsari.
Dari Dewi Mayangsari, dikaruniai anak, Dewa Niskala.
Dewa Niskala adalah Ayahanda Jayadewata, atau Sri Baduga Maharaja.
Dari istrinya Niskala Watu Kancana yang lain, yaitu Lara Sarkati, putri Raja Lampung, dikaruniai anak bernama Susuk Tunggal.
Prabu Sahyang Bunisora Suradipati, atau Prabu Kuda Lalean, memiliki putra-putri, yaitu: Giridewata alias i Gede ing Kasmaya Cirebon, Bratalegawa alias aji Purwa Galuh, Nyai Ratna Mayangsari alias ewi Mayangsari, dan Banawati.
Menurut Babad Pasir dari Cilacap Jawa Tengah, dari pernikahan Nyai Ambetkasih dan Prabu Siliwangi, alias Raden Pamanahrasa, memiliki 3 orang putra-putri, yaitu: Banyak Catra alias Banyak Cotro atau Kamandaka, Banyak Ngampar alias Gagak Ngampar, Nyai Ratna Pamekas alias Retna Ayu Mrana.
Dari Banyak Catra ini menurunkan raja-raja di Kerajaan Pasir Luhur, dan Banyak Ngampar di Kerajaan Daya Luhur, sementara dalam legenda Majalengka, tidak menceritakan Nyai Ambetkasih memiliki anak.
Sosok Nyai Ambetkasih adalah seorang pemberani, memiliki paras cantik molek, berambut panjang, bijaksana dan waspada Permana Tingal.
Dalam kisah legenda Majalengka, disebutkan bahwa Nyai Rambut Kasih, atau Ambetkasih, adalah seorang raja di Sindangkasih Majalengka.
Menurut naskah-naskah Sunda kuno, Sindangkasih Majalengka adalah Mandala Sindangkasih.
Sebuah Mandala adalah kawasan perdikan atau pendidikan di zaman Sunda Kuno, bercirikan ajaran sinkretisme, dengan sebutan Lemah Dewasana.
Sedangkan tempat pendidikan keagamaan Jati Sunda, disebut Lemah Parahyangan, atau Kabuyutan.
Para Ajar, atau Maharesi, atau Mahawiku, di Mandala-mandala biasanya adalah para bangsawan, bahkan para pangeran atau rajaputra, putra mahkota, atau para putri raja.
Struktur kepengurusan Mandala ada rakyat sekelilingnya atau di lingkungan sekitarnya, tepi i siring atau tepiswiring, dan keamanannya dijamin oleh negara atau kerajaan, dengan menempatkan para prajurit penjaga keamanan.
Oleh karena itu, Mandala sering dimaknai atau dipandang kalangan rakyat sebagai sebuah kerajaan.
Meskipun demikian, pandangan Mandala sebagai kerajaan juga beralasan, ada beberapa ke-Mandala-an kemudian berubah menjadi kerajaan, seperti Mandala Wanagiri Cirebon menjadi Kerajaan Wanagiri, Mandala atau Kabuyutan Galunggung menjadi Kerajaan Galunggung, dan Mandala Kendang di Nagreg Bandung menjadi Kerajaan Kendan, pendahulu Kerajaan Galuh, sedangkan Mandala Sindangkasih di Majalengka dianggap masyarakat sebuah Kerajaan Sindangkasih.
Lokasi Ki Gede ing Sindangkasih berada di Beber Kabupaten Cirebon sekarang, sedangkan wilayah yang disebut Sindangkasih pada abad ke15 mencakup kawasan bagian utara Majalengka.
Secara administratif, wilayah Mandala Sindangkasih termasuk dalam wilayah Kerajaan Sumedang Larang, barulah wilayah Sindangkasih, Kota Majalengka sekarang, diserahkan oleh Sumedang Larang ke Panembahan Girilaya Cirebon, sebagai talak Ratu Harisbaya yang diculik Prabu Geusan Ulun.
Kisah pertemuan Nyai Ambetkasih dengan Prabu Siliwangi diceritakan panjang lebar dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi, dalam naskah Cariosan Prabu Siliwangi, kisah Ambetkasih diceritakan panjang lebar hingga menjelang pernikahannya.
Penelitian terhadap Naskah Cariosan Prabu Siliwangi dilakukan oleh Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh, EFEO, Ecole Française d'Extrême-Orient, hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1983.
Kurun waktu yang digambarkan oleh Cariosan prabu Siliwangi adalah bagian pertama dari hidup Siliwangi ketika ia sebagai seorang putra mahkota muda berumur sembilan tahun, Pamanahrasa, putra kedua Anggalarang, Dewa Niskala, dari permaisuri Umadewi.
Wajahnya bersinar, sehingga dapat dianggap sebagai jelmaan Wisnu.
Kakaknya, adalah putra dari Selir yang bernama Astunalarang, atau Sang Astunawangi.
#education #sejarah #duet #facts #history #kisah #kisahhariini #knowledge #mitosantiguos #misteri
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: