DO'A
Автор: RASI | Masyarakat Spiritual Indonesia
Загружено: 2026-01-05
Просмотров: 1251
Описание:
Nampaknya di sinilah letak kekeliruan yang kerap terjadi, baik di alam spiritual yang kita kenal, maupun dalam pemahaman keagamaan. Bahwa Ibadah, tirakat, Tafakur, zikir, syukuran, khalwat, dan berbagai ritual lainnya sering kali dijalankan “bukan sebagai jalan kesadaran”, melainkan sebagai sarana untuk “memudahkan rezeki (finansial), menjamin keselamatan diri, menyelesaikan masalah dan berharap bahkan menagih pahala”.
Izinkan Abang berbagi satu kisah. Almarhum Aki, sepanjang hidupnya, hampir selalu berada dalam kekurangan secara finansial. Baru sekitar dua setengah tahun menjelang wafatnya, beliau memperoleh sebuah rumah dan sedikit tabungan. Padahal, kedekatan Aki dengan Tuhan tidak pernah diragukan, beliau begitu tekun, begitu berserah.
Sering kali Abang bertanya dalam hati, bahkan pernah mengajukannya langsung kepada Aki: “Mengapa Tuhan tidak memudahkan rezeki dan kesehatan Aki, padahal Aki begitu dekat dengan-Nya?.... Mengapa Tuhan seolah tidak menolong?” Lalu Abang bertanya lebih jauh: “Jika Aki saja tidak diberi kemudahan finansial, bagaimana dengan saya dan umat-umat yang lain?”
Aki selalu terdiam. Dan dari diam itulah, kegelisahan Abang tumbuh.
Puncak kegelisahan itu terjadi pada tahun 1992. Saat itu Abang memilih keluar dari “alam Amanah” yang kita kenal, karena Abang merasakan ada sesuatu yang tidak tepat dalam cara kita memaknai spiritualitas. Abang meninggalkan tata cara yang selama ini diyakini, lalu menapaki dunia yang disebut “normal” bekerja, berjuang, sambil tetap menyimpan keyakinan: Tuhan pasti membantu, dengan cara-Nya sendiri.
Dari perjalanan itu, Abang menemukan satu pemahaman yang mengubah segalanya: Semua jalan agama dan spiritual serta Alam kita, termasuk ritual ritualnya, bukanlah ditujukan untuk menjamin kemudahan rezeki harta, penyelesaian masalah, keselamatan diri, atau kelimpahan duniawi. Melainkan untuk menguatkan diri, melapangkan dada, agar kita mampu MENERIMA, MENJALANI, dan MENSYUKURI dalam setiap peristiwa kehidupan.
Namun manusia kerap terjebak. Kita mengagungkan Tuhan dan ber-shalawat kepada Nabi, lewat ibadah, zikir, tirakat, tafakur, dan syukuran….”bukan sebagai ungkapan cinta dan terima kasih”, melainkan sebagai rayuan yang tersembunyi, bahkan tuntutan halus agar Tuhan membalas dengan kemudahan, kekayaan, penyelesaian masalah, kesehatan, dan kelancaran hidup.
Padahal Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka mengapa dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar?”
Dari ayat ini patut kita renungkan dengan jujur: Pantaskah kita selalu meminta kemudahan dalam hidup, sementara jalan yang ditunjukkan justru jalan yang menanjak, berliku, penuh tantangan, sulit dan berat?
Sesungguhnya, seluruh ibadah itu indah dan mulia, shalat, puasa, haji, wirid, zikir, tirakat, tafakur, tertib, syukuran, khalwat, sedekah, Meditasi, bertapa dan lain sebagainya. Namun sayangnya, sering kali semua itu dilakukan manusia “untuk meminta imbalan”, bahkan tanpa sadar “menagih Tuhan” atas keinginan dan kebutuhan diri. Di sinilah dilema manusia yang bertuhan.
Padahal hakikat seluruh ibadah adalah ungkapan terima kasih, sekaligus sarana untuk menenangkan dan menguatkan batin dan akal, agar kita mampu menerima, menjalani, dan mensyukuri apa pun yang terjadi dalam hidup ini.
Berdoa dan meminta kepada Tuhan tetaplah sebuah keharusan, karena kita adalah hamba yang lemah. Doa adalah pelepasan beban, pengakuan atas keterbatasan diri. Ia ibarat proposal yang diajukan kepada Dia Yang Maha Mengetahui Segalanya.
Namun kekeliruannya terjadi ketika kita mengikat doa dengan harapan pasti dikabulkan sesuai keinginan dan waktu kita. Dari sanalah lahir penantian yang menyiksa, prasangka kepada diri sendiri, bahkan kecurigaan kepada Tuhan :
“Mengapa doaku tidak dikabulkan?................. Apakah aku salah?............ Apakah dosaku terlalu banyak?”
Sebagai hamba, kita hanya mampu mengajukan permohonan, bukan menentukan hasil. Kita tidak memiliki kuasa untuk memaksa Allah. Maka sejatinya, tidak ada doa makhluk yang makbul dengan sendirinya, melainkan Allah-lah yang memakbulkan, dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.
Doa adalah obat, vitamin jiwa, dan pelepasan batin. Ketika doa dilantunkan dengan sungguh-sungguh, hati menjadi tenang, keyakinan tumbuh, namun jangan kita batasi Tuhan dengan waktu dan rupa jawaban.
Sampaikan permohonan dengan jujur dan rinci, lalu serahkan sepenuhnya kepada kewenangan-Nya.
Janganlah menjalankan ibadah atau ritual apa pun untuk meminta imbalan dari Tuhan, karena itu akan menjerumuskan kita pada ego, riya, dan keputusasaan.
Lakukanlah ibadah sebagai jalan ketenteraman, kenyamanan, dan kepercayaan diri, karena kita sadar: kita tidak hidup sendirian, ada Dia yang senantiasa mengatur kehidupan ini.
Sebagaimana firman-Nya:
..................
Повторяем попытку...
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео
-
Информация по загрузке: